Namun, menurut Joseph, praktik tersebut meningkat signifikan sejak 2018. Ia mencatat sejumlah rute penyelundupan, mulai dari Myanmar melalui wilayah timur laut India menuju bagian lain negara itu, hingga jalur dari Bangladesh ke India. Sementara melalui jalur udara, Thailand dan Malaysia menjadi sumber utama satwa liar yang diselundupkan.

Satwa eksotis juga masuk melalui perbatasan darat di wilayah timur laut India, tidak hanya melalui bandara.

"Yang baru adalah banyaknya satwa liar hidup yang masuk. Ada indikasi bahwa sejumlah pedagang yang sebelumnya terlibat dalam penyelundupan hewan hidup seperti kura-kura bintang, kini juga terlibat dalam pengadaan satwa liar eksotis lainnya," kata Mendiratta.

Analisis Humane World for Animals India pada Juni 2026 menyebut permintaan terhadap satwa eksotis didorong oleh meningkatnya minat memelihara hewan eksotis serta keberadaan pasar digital yang minim pengawasan.

"Secara global, platform media sosial turut mendorong dan memfasilitasi perdagangan ilegal satwa liar dengan menjadi ruang bagi orang-orang untuk memamerkan koleksi hewan mereka," kata ahli biologi satwa liar dan ilmuwan konservasi Ravi Chellam kepada DW. "Platform ini juga menjadi pasar daring yang memungkinkan perdagangan ilegal berkembang pesat."

"Masalah ini semakin rumit dengan adanya koleksi pribadi yang sangat besar, berisi satwa dari berbagai belahan dunia, milik orang-orang kaya dan terkenal," kata Chellam.

Melacak asal-usul satwa juga semakin sulit setelah satwa tersebut melewati beberapa negara.

"Penyitaan tidak boleh menjadi akhir dari penyelidikan. Itu seharusnya menjadi awal," kata pembuat film konservasi Trishala Ashok.

"Siapa yang memasok hewan-hewan itu? Siapa yang mengatur pergerakannya? Siapa yang membayarnya? Siapa yang menunggunya?" tanyanya. "Selama kita belum mulai menelusuri jejak-jejak tersebut, kita akan terus menyita kiriman tanpa membongkar jaringan di baliknya."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris