"Jika Israel dipimpin oleh orang yang salah, siapa pun selain Bibi (Netanyahu), Amerika harus menangani perang ini sendiri. Saya tidak berminat melakukannya," kata Trump.

Meski begitu, dampak dukungan Trump terhadap hasil pemilu belum dapat dipastikan. Walau Trump populer di Israel, sejumlah warga Israel kecewa dengan hasil perang Iran. Sebab, hasil perang tersebut belum jelas. Selain itu, usulan gencatan senjata Trump dinilai belum memenuhi banyak tujuan utama kedua negara sejak perang dimulai.

Perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada Februari dan menyebabkan Teheran memblokir sebagian pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Kandidat lain sekaligus pesaing utama Netanyahu, Gadi Eisenkot, menanggapi dukungan Trump dengan menegaskan bahwa satu-satunya pihak yang berhak menentukan pemimpin negara berikutnya adalah rakyat Israel.

Dalam sebuah acara di Tel Aviv, Eisenkot mengapresiasi "kontribusi besar" Trump terhadap keamanan Israel.

"Namun, Israel adalah negara demokratis," ujarnya. Ia menambahkan, pemerintahan AS harus siap bekerja sama dengan pemerintahan mana pun yang dipilih rakyat Israel.

Ini bukan kali pertama Netanyahu memanfaatkan dukungan Trump dalam kampanye pemilu untuk memperkuat citra internasionalnya.

Pada 2019, Partai Likud pimpinan Netanyahu memasang baliho yang menampilkan Netanyahu berjabat tangan dengan Trump, yang saat itu menjabat sebagai presiden AS untuk pertama kalinya. Baliho tersebut juga menampilkan Netanyahu bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, dimana Netanyahu digambarkan sebagai pemimpin dengan "level yang berbeda".