Sementara itu, apabila melintas ke arah selatan, warga harus melewati empat desa, yakni Desa Cibanten, Kertayasa, Cijulang, dan Kondangjajar. Kemudian, jika memilih akses utara, rute memutar harus melintasi lima desa, yaitu Desa Cimindi, Parakanmanggu, Cintakarya, Karangbenda, dan Parigi.

Kendati menyayangkan musibah yang terjadi saat peresmian bersama jajaran Forkopimda dan Dandim 0625/Pangandaran, warga berharap momentum ini menjadi bahan evaluasi serius bagi para pemangku kebijakan.

"Warga kami meminta agar pemerintah daerah maupun pusat tidak sekadar memperbaiki kondisi gantungannya, melainkan mempertimbangkan pembangunan jembatan permanen yang representatif guna menampung volume beban lalu lintas harian yang padat dan bermuatan berat," ucapnya.

Menurut Enceng, jembatan gantung tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda kelebihan beban saat rombongan mulai melintas. Guncangan jembatan dinilai berbeda dari biasanya dan bergerak kencang ke arah samping.

"Jembatan sudah goyang tidak seperti biasanya, goyang ke samping. Saya sempat bilang ke Ibu Bupati, 'Bu, tidak takut?' Ibu Bupati menjawab tenang karena merasa masih di dekat daratan. Tapi begitu selesai bicara, langsung ceplak (putus)," tuturnya.

Meskipun situasi berubah menjadi sangat menegangkan dan memicu kepanikan warga, ia bersyukur karena masih selamat, kendati mengalami cedera pada bagian pinggang akibat benturan keras saat insiden terjadi.