NADIKABAR.COM — Beberapa perusahaan Jepang dan sebuah universitas telah melaporkan pelanggaran data atau serangan siber sejak Senin, yang berpotensi memengaruhi jutaan pelanggan, anggota, mahasiswa, dan dosen dalam serangkaian insiden terpisah.

Universitas Metropolitan Osaka mengatakan pada hari Senin bahwa data setidaknya 130.000 mahasiswa dan dosen mungkin telah bocor setelah serangan siber yang menyebabkan kegagalan sistem di institusi tersebut.

Pihak universitas menjelaskan bahwa sekitar 500 server pendukung sistem informasi universitas berhenti beroperasi setelah dugaan serangan ransomware pada Jumat (2/10) pekan lalu.

Jaringan kampus untuk mahasiswa dan situs portal bagi staf pengajar masih belum dapat digunakan hingga Senin, sementara perkuliahan terpaksa ditangguhkan.

Operator jaringan toko diskon asal Jepang, Mr. Max Holdings Ltd., pada Selasa (6/10) menyampaikan bahwa data pribadi dari hingga 1,7 juta pelanggan kemungkinan telah bocor akibat akses tanpa izin ke server yang menangani layanan belanja daring perusahaan tersebut.