NADIKABAR.COM — Sebanyak tujuh orang Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia dilaporkan terlantar di atas kapal penangkap ikan berbendera China, Yongxing, yang tengah tertahan di perairan lepas Suva, Fiji. Mayoritas dari para pelaut tersebut berasal dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sementara kru lainnya berasal dari Indramayu dan Batam.
Kondisi para ABK kian kritis lantaran stok perbekalan makanan dan air bersih di atas kapal telah habis total sejak tiga pekan terakhir. Selain krisis logistik, hak gaji mereka selama berbulan-bulan juga belum dibayarkan oleh pihak perusahaan.
Salah seorang ABK asal Kampung Ciawun, RT 03/RW 08, Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Sukabumi, Teteng Surgana (33), menceritakan peristiwa penelantaran bermula saat agensi pengelola lokal di Fiji, Jules, mendadak menghentikan jatah uang belanja perbekalan mingguan.
"Awalnya tiga minggu ke belakang itu dari pihak agen Fiji biasanya tiap Jumat ngasih uang belanja, tapi tahu-tahu tidak ngasih uang makan lagi ataupun gaji. Dikarenakan bos Chinanya kabur membawa uang perusahaan," ujar Teteng saat dihubungi NadiKabar, Sabtu (22/8/2026).
Teteng merinci, dari tujuh kru WNI yang senasib di atas kapal, lima orang di antaranya merupakan warga Kabupaten Sukabumi yang tersebar di wilayah Palabuhanratu, Cisolok, Sangrawayan, Pangsor, dan Babakan Lebu (Cihurang). Sedangkan dua kru lainnya berasal dari Indramayu dan Batam, serta satu kru kelahiran Garut yang berdomisili di Sukabumi.
Meskipun seluruh prosedur keberangkatan mereka dipastikan berstatus legal dan resmi, masa tunggakan gaji masing-masing kru bervariasi.
"Kru senior ada yang sudah 6 sampai 7 bulan belum digaji. Kloter kedua sekitar 2 bulan, dan saya sendiri sudah sebulan lebih belum digaji. Tapi kalau terlantar tidak dikasih makan itu sama semuanya, sudah tiga minggu sampai sekarang," tutur Teteng yang mengaku baru pertama kali bekerja di kapal ikan tangkap tersebut.
Selama terlantar di tengah laut, para ABK sempat mengalami perlakuan diskriminatif dari kru kapal asal China yang mengunci akses seluruh bahan makanan yang tersisa. Beruntung, mereka berhasil meminta bantuan darurat kepada pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suva.
"Alhamdulillah pihak KBRI Suva sudah dua kali mengirimkan bantuan logistik makan ke kapal. Kami juga diberikan paket data internet supaya bisa tetap komunikasi dan mengabari keluarga," jelasnya.
Teteng menambahkan, pihak agensi lokal di Fiji justru lepas tangan dan meminta agar para ABK dipulangkan saja ke Indonesia oleh KBRI.
Sementara itu, perusahaan manning agency di Jakarta yang memberangkatkan mereka, dinilai tidak menunjukkan pertanggungjawaban.
"Pihak keluarga di Sukabumi sudah mendatangi kantor agensi di Jakarta, tapi laporannya malah seperti tidak dipercaya dan diabaikan. Karena posisi kami ada di tengah laut dan air bersih pun sudah habis, harapan kami pemerintah segera membantu kepulangan kami ke Tanah Air serta menuntaskan hak gaji kami," pungkasnya.
Para ABK sendiri sudah melayangkan laporan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suva. Laporan tersebut dibuat tak lama setelah mereka ditinggalkan tanpa kejelasan oleh pihak pengelola kapal.
Teteng mengungkap berkas pengaduan resmi itu telah ditandatangani oleh seluruh kru WNI yang berjumlah tujuh orang.
"Iya, itu berkas resmi dari pihak KBRI terus diisi sama kita-kita yang tujuh orang untuk laporan resmi ke KBRI. Laporan sudah sekitar tiga minggu lalu, pas kita mulai tidak dikasih makanan dan bos Chinanya kabur bawa uang perusahaan," ujar Teteng.
Teteng mengatakan, perwakilan dari KBRI Suva pun telah mengecek langsung ke kantor perwakilan agensi di Fiji guna memastikan kebenaran nasib yang dialami para kru kapal.
"Sempat datang dari pihak KBRI ke kantor Fiji di sini menanyakan kebenarannya. Malah saya dan teman-teman dapat bantuan kiriman makanan juga dari pihak KBRI, sudah dua kali dikirim ke kapal," tuturnya.
Selain itu, para ABK WNI ini sempat turun ke darat saat momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus lalu untuk mengikuti upacara bendera di kantor KBRI Suva.
Pada kesempatan tersebut, pihak KBRI turut memfasilitasi paket kuota internet agar para ABK tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga di Tanah Air.
Berdasarkan salinan formulir resmi Pelayanan dan Pelindungan WNI di Luar Negeri KBRI Suva, para pelaut ini mencentang sejumlah dugaan pelanggaran hukum perdata dan pidana, mulai dari upah yang tidak dibayar, tempat tinggal tidak layak, hingga penelantaran.
Kondisi getir tersebut dipertegas lewat deretan tulisan tangan para ABK pada kolom kronologi formulir laporan. Mereka mencurahkan bahwa pihak agensi hingga saat ini tidak menunjukkan kepastian dan tanggung jawab, padahal masalah penelantaran dan tunggakan gaji sudah dilaporkan sejak awal.
Para pelaut ini juga membubuhkan tulisan tangan yang mengisahkan adanya dugaan pengelabuan oleh pengurus kapal asal China yang meminta mereka menandatangani dokumen kepulangan tanpa penjelasan yang transparan.
Tak hanya itu, sejak 8 Agustus lalu pasokan makanan dihentikan total, disertai perlakuan diskriminatif dari kru kapal asal China yang mengunci rapat-rapat akses seluruh bahan makanan di kapal.
Di bagian akhir lembar laporan resmi tersebut, tertulis jelas permohonan bantuan darurat yang diminta para ABK kepada pihak perwakilan RI di Suva.
Mereka memohon kepastian pelunasan hak gaji yang belum terbayar, jaminan stok makanan selama masih berstatus standby di kapal perairan Walu Bay, serta percepatan proses repatriasi atau pemulangan ke Tanah Air.