Begitu air liur menguap dari permukaan bibir, ia justru menarik kelembapan yang tersisa dan meninggalkan bibir lebih kering dari sebelumnya. Ini menciptakan siklus: kering >> dijilat >> makin kering >> dijilat lagi. Kondisi ini dikenal sebagai lip licking dermatitis, biasanya ditandai garis kemerahan di sekitar bibir yang jelas batasnya.

Scrub bibir sebenarnya tidak salah, tapi caranya sering keliru. Menggunakan gula pasir kasar atau madu sebagai scrub harian bisa menyebabkan microtear alias luka mikroskopis di permukaan bibir yang tidak selalu terlihat kasat mata.

Madu memang memiliki sifat higroskopis artinya dia menyerap air dari sekitarnya, tetapi penggunaan madu sebagai scrub, terutama jika digosokkan terlalu sering bersama butiran gula, tetap dapat menyebabkan iritasi pada permukaan bibir. Gesekan berulang dapat memperparah bibir yang sudah kering, pecah-pecah, atau sensitif.

Idealnya, eksfoliasi bibir cukup 1-2 kali seminggu, dengan tekstur yang halus, dan tidak dilakukan saat bibir sedang pecah-pecah atau luka.

Ini yang paling sering luput dari perhatian karena bukan "kebiasaan perawatan", tapi kebiasaan yang berkaitan langsung dengan struktur mulut dan saluran napas. Kalau seseorang terbiasa bernapas lewat mulut, terutama saat tidur, permukaan bibir dan rongga mulut terus-menerus terpapar aliran udara yang mempercepat penguapan kelembapan alami.

Ini sering muncul karena hidung tersumbat kronis, alergi, atau posisi rahang tertentu. Tandanya biasanya bibir kering justru paling parah di pagi hari setelah bangun tidur, bukan di siang hari.

Kalau ini yang terjadi, lip balm sebanyak apa pun tidak akan menyelesaikan akar masalahnya perlu dicari tahu kenapa napas lewat mulut ini terjadi.