Ironisnya, produk yang dibeli untuk mengatasi bibir kering kadang jadi penyebabnya. Lip balm dengan pewangi (fragrance), mentol, kayu putih, atau kamper memang memberi sensasi dingin/segar yang terasa "melegakan" sesaat.

Tapi sensasi dingin atau segar tersebut bukan berarti produk sedang memperbaiki bibir. Pada sebagian orang, bahan seperti menthol, kayu putih, atau kamper justru dapat memicu iritasi jika digunakan berulang kali.

Pemakaian berulang bisa menyebabkan contact cheilitis reaksi iritasi kronis di bibir akibat bahan tertentu yang terus-menerus bersentuhan dengan kulit. Semakin sering dipakai untuk "mengatasi" kering, semakin bibir bergantung dan makin sensitif terhadap bahan tersebut.

Bibir kering yang terus-menerus dan tidak membaik meski sudah menghindari kebiasaan di atas, kadang merupakan tanda dari kondisi lain: dehidrasi kronis, kekurangan zat besi atau vitamin B, infeksi jamur di sudut bibir (angular cheilitis), atau efek samping obat-obatan tertentu.

Kalau bibir kering disertai retakan di sudut mulut, rasa perih terus-menerus, atau tidak membaik dalam beberapa minggu meski sudah dirawat dengan benar, ini saatnya konsultasi ke dokter gigi atau dokter umum, bukan sekadar ganti merek lip balm.

Jadi, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Bibir kering yang membandel sering kali bukan soal produk yang salah, tapi kebiasaan kecil yang berulang setiap hari. Mengenali kebiasaan itu adalah langkah pertama yang jauh lebih efektif dibanding terus berganti-ganti lip balm.