Tong Bin bersama para tukang tungku mulai menggarap guci tersebut. Namun, prosesnya jauh lebih sulit dari perkiraan. Setiap kali proses pembakaran selesai, yang tersisa di dalam tungku hanyalah pecahan porselen.

Melihat hasil yang selalu gagal, para tukang tungku merasa tak berdaya, sementara Pan Xiang makin panik. Karena terus didesak oleh pihak istana, Pan Xiang mulai hilang kesabaran. Ia membentak, mencambuk, bahkan mengancam akan menghukum mati para pekerja.

Tidak tega melihat rekan-rekannya menderita dan terancam nyawanya, Tong Bin mengambil keputusan nekat. Pemuda berusia 22 tahun itu melompat ke dalam tungku untuk mengorbankan dirinya demi keberhasilan pembakaran guci naga tersebut.

Pengorbanan heroik Tong Bin menyentuh hati para dewa. Saat para tukang tungku membuka pintu tungku usai pembakaran, sesosok guci porselen putih bermotif naga biru berdiri berkilau cemerlang, membuat semua orang terperangah.