NADIKABAR.COM — 7 RI Joko Widodo (Jokowi) menyebut polemik ijazah dirinya dan ijazah putra sulungnya sekaligus Wapres, Gibran Rakabuming Raka, sebagai operasi politik serta ada penumpang gelap di baliknya. Politisi PDIP Guntur Romli menilai tak ada operasi politik seperti yang disampaikan Jokowi.
"Tidak ada (operasi politik). Maling teriak maling, yang melakukan operasi politik selama berkuasa ya Jokowi sendiri," kata Guntur saat dihubungi, Senin (19/10/2026).
Guntur lalu merinci operasi politik yang dilakukan Jokowi selama berkuasa. Mulai dari operasi meloloskan Gibran nyalon wapres hingga polemik suket Gibran.
"Operasi politik melalui putusan MK No 90/2023 yang memuluskan Gibran sebagai cawapres, diketok oleh ipar Jokowi, Anwar Usman mantan Ketua MK, paman Gibran dan dugaan intervensi dari orangnya Jokowi, suket penyetaraan Gibran 2019 yang terbit hanya beberapa jam tanpa dasar ijazah atau sertifikat kelulusan padahal kalau orang lain meski lengkap bisa berminggu-minggu," jelas dia.
Guntur juga menyinggung pasal selundupan pada Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) 19 tahun 2023. Dia menekankan operasi politik itu untuk memuluskan Gibran berkuasa.
"Operasi politik perubahan PKPU No 19 Tahun 2023 Pasal 18 ayat 3 yang disebut pasal selundupan, juga pengerahan sumber daya negara untuk memenangkan Gibran itu semua operasi politik yang dilakukan Jokowi saat berkuasa," ujar dia.
Jokowi sebelumnya menyebut polemik ijazah dirinya dan Gibran sebagai operasi politik. Mantan kader PDIP itu mengatakan ada penunggang gelap di balik polemik ijazah dirinya dan Gibran.
"Iya kan sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik, kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi. Jadi menjadi ramai sekali," kata Jokowi dilansir NadiKabar, Jumat (16/10).
"Tapi ya buat saya biasa aja," imbuhnya.
Jokowi tidak memungkiri bahwa polemik ijazah dirinya dan ijazah Gibran bisa menutup isu-isu lain. Jokowi menyebut operasi politik itu untuk menurunkan reputasi dirinya dan Gibran.
"Bisa saja seperti itu, bisa saja, memang sekalian lagi operasi politik untuk men-downgrade reputasi politik seseorang," ujarnya.
Terkait dugaan operasi politik tersebut menyasar dirinya atau Gibran, Jokowi menilai dua nama tersebut berpotensi menjadi sasaran. "Ya dua-duanya bisa (Jokowi dan Gibran)," pungkasnya.