Pertumbuhan ekonomi nasional turut diiringi perbaikan sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 22,93 juta orang, berkurang 0,43 juta orang dibandingkan September 2025, sehingga tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07%, terendah sepanjang sejarah pencatatan.
Di bidang ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang, dengan penyerapan tenaga kerja bertambah 522 ribu orang sepanjang Februari-Mei 2026. Jumlah pengangguran turun 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang, sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,65% dengan porsi tenaga kerja formal yang terus meningkat.
"Menko Airlangga menyampaikan pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang menciptakan lapangan kerja dan menurunkan kemiskinan. Pada Semester I ini keduanya terjadi bersamaan, dan lapangan kerja yang tercipta semakin berkualitas karena porsi pekerja formal meningkat," tegas Haryo.
Sejumlah indikator terkini juga menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak positif memasuki Semester II-2026. Inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28% (yoy), sementara PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level ekspansi sebesar 52,4 pada September 2026. Optimisme masyarakat juga tetap terjaga, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang meningkat menjadi 118,1 pada September 2026. Perkembangan ini menunjukkan aktivitas manufaktur dan keyakinan konsumen tetap menjadi penopang penting perekonomian nasional.
Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal pada Semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% (y-on-y) dan setara dengan 49,5% dari target tahunan. Realisasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp507,6 triliun atau 50,2% dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp502,9 triliun atau 49,8%. Pemerataan investasi juga terus menunjukkan perkembangan positif, dengan realisasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2% dari total investasi nasional.
Dari sisi perdagangan eksternal, neraca perdagangan Indonesia juga kembali mencatatkan surplus yang menguat pada Agustus 2026 mencapai US$ 3,55 miliar. Dengan demikian, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Agustus 2026 mencatat surplus sebesar US$ 7,25 miliar. Capaian tersebut ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar US$ 28,54 miliar, di tengah defisit neraca perdagangan migas sebesar USD21,29 miliar.
Pada periode yang sama, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 193,64 miliar, tumbuh 4,74% dibandingkan periode Januari-Agustus 2025. Surplus perdagangan ini turut mendukung ketahanan eksternal perekonomian nasional di tengah dinamika perdagangan global.
Kepercayaan internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia juga tercermin dari keputusan S&P Global Ratings pada 13 Juli 2026 yang kembali mengafirmasi peringkat kredit berdaulat Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, sehingga Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade.