Untuk meningkatkan fleksibilitas tersebut, Pertamina mengembangkan portofolio LNG dari berbagai sumber. Selain mengoptimalkan pasokan domestik, Pertamina memiliki portofolio internasional, tim redaksi lain dari Australia dan Amerika Serikat. Diversifikasi ini memberikan ruang bagi Pertamina untuk menyesuaikan sumber pasokan dan pola pengiriman sesuai kebutuhan, kondisi pasar, serta pertimbangan keekonomian.
Fleksibilitas pasokan tersebut diperkuat dengan infrastruktur LNG dan gas Pertamina Group, tim redaksi lain Perta Arun Gas, Nusantara Regas, fasilitas penerimaan LNG Jawa-1, serta jaringan pipa gas PGN yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Integrasi tim redaksi sumber pasokan, infrastruktur penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi, jaringan pipa, serta distribusi menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok LNG yang lebih adaptif. Dengan ekosistem tersebut, LNG dapat dikelola sesuai kebutuhan, mulai dari penerimaan dan penyimpanan hingga regasifikasi dan distribusi ke berbagai wilayah.
"Pertamina memiliki portofolio LNG dan infrastruktur gas yang saling melengkapi. Integrasi dari sumber pasokan, fasilitas penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi hingga jaringan distribusi memberikan fleksibilitas bagi Pertamina untuk menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan energi di berbagai wilayah," jelas Baron.
Salah satu infrastruktur yang memiliki posisi strategis adalah Perta Arun Gas di Aceh. Berada di Selat Malaka yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi utama dunia, Arun memiliki peluang untuk berkembang sebagai hub LNG regional yang menghubungkan pasokan internasional dengan kebutuhan Indonesia maupun pasar di Asia Tenggara.