NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menargetkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao menjadi pusat produksi dan hilirisasi garam nasional yang mampu menyerap sekitar 26.000 tenaga kerja lokal serta meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 2,5 kali upah minimum regional (UMR).
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (KKP) Provinsi NTT Stefania Tanggu Boro di Kupang, Sabtu mengatakan pengembangan K-SIGN tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi garam, tetapi juga membangun ekosistem industri yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat setempat.
"Targetnya cukup konkret. KKP memperkirakan K-SIGN dapat menyerap sekitar 26.000 tenaga kerja dengan asumsi dua tenaga kerja per hektare dari total rencana pengembangan lahan 13.000 hektare. Pendapatan masyarakat juga ditargetkan meningkat hingga 2,5 kali UMR setempat," katanya di Kupang berkaitan dengan dengan proyek strategis nasional (PSN) KSIGN di Rote.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut dirancang untuk mengembangkan industri garam dari hulu hingga hilir, sehingga NTT tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan baku, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari pengolahan produk garam bernilai tambah.
Menurut dia, pemerintah telah memasukkan sejumlah fasilitas industri dalam desain pengembangan K-SIGN, antara lain sarana pengolahan garam, laboratorium, gudang garam nasional, serta rencana produksi mineral ikutan seperti magnesium sulfat dan kalium.