Pengembangan industri turunan tersebut diharapkan membuka peluang investasi pada sektor garam konsumsi, industri pangan, dan industri kimia yang selama ini membutuhkan pasokan garam berkualitas.

"Menko Pangan sudah menegaskan bahwa garam Rote Ndao tidak boleh hanya dijual sebagai bahan mentah. Garam harus diolah agar nilai tambahnya lebih tinggi dan manfaat ekonominya juga dinikmati masyarakat daerah," ujarnya.

Stefania mengatakan, K-SIGN juga memiliki target mendukung pencapaian swasembada garam nasional pada 2027 melalui peningkatan kapasitas produksi dan kualitas garam lokal.

Dari sisi produksi, pemerintah menargetkan produktivitas tambak dapat mencapai 200 ton per hektare dengan kadar natrium klorida (NaCl) di atas 97 persen agar memenuhi kebutuhan industri.

Dengan pengembangan awal seluas 2.000 hektare, potensi produksi secara teoritis dapat mencapai 400.000 ton apabila produktivitas 200 ton per hektare terealisasi. Angka tersebut jauh melampaui produksi garam NTT yang selama ini masih berada pada kisaran puluhan ribu ton per tahun.