Dengan ajang Singapore International Marathon yang tinggal sedikit lebih dari sebulan lagi—dan menjadi sasaran latihan banyak pelari lainnya—Wong harus berlari hingga 80 kilometer per pekan. Namun, kabut asap memaksanya berlatih di dalam ruangan.

"Selama dua pekan terakhir, saya berlari hampir 100 kilometer menggunakan treadmill. Jarak terjauh yang saya tempuh adalah 28 kilometer selama dua setengah jam. Itu sangat menguras mental," kata Wong.

"Berlari di dalam mal jelas lebih baik karena treadmill terasa seperti berlari di roda hamster. Kita hanya terus mengulang rutinitas yang sama."

Eddie Chang, pelatih kepala X-Run, mengatakan klubnya harus mengajukan rencana yang disusun secara terperinci untuk mendapatkan izin dari pihak pengelola pusat perbelanjaan. Mereka harus mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti lebar jalur pejalan kaki, tikungan sempit, serta pelaksanaan kegiatan pada pagi hari sebelum toko-toko buka.

"Tantangan terbesar dalam latihan di luar ruangan adalah cuaca. Kelembapannya sangat tinggi, ditambah kabut asap sekarang. Dampaknya menjadi dua hingga tiga kali lipat, sehingga sangat sulit untuk mengatasinya," kata Chang kepada AFP.

"Dengan beralih ke dalam ruangan, kita tentu dapat mengurangi seluruh dampak yang ditimbulkan oleh kondisi di luar ruangan dan tetap melanjutkan latihan lari."

Kualitas udara membaik pada pekan ini. Namun, pekan ini Singapura masih termasuk dalam 20 kota besar dengan tingkat polusi tertinggi di dunia, menurut IQAir, pemantau kualitas udara yang berbasis di Swiss.

Kedua klub lari tersebut kemungkinan akan memperpanjang kegiatan lari di dalam pusat perbelanjaan jika kualitas udara yang buruk terus berlanjut. Mereka juga berencana meminta lebih banyak pusat perbelanjaan untuk mengizinkan kegiatan serupa.

"Saya yakin akan ada peluang. Ini merupakan sesuatu yang baru dalam dunia olahraga," kata Beh. "Semoga, dengan izin dari pihak pengelola gedung, kegiatan ini bisa meluas ke kelompok-kelompok olahraga lainnya."

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir di Jakarta. Seusai pertemuan, Balakrishnan mengatakan bahwa kedua negara sepakat membentuk satuan tugas untuk memperkuat penegakan hukum melalui kewenangan regulasi yang sudah ada, sekaligus mempertimbangkan penerapan kewenangan baru.