ES menjelaskan, perselisihan tersebut bermula dari persoalan pembongkaran bak sampah. Setelah itu, muncul berbagai unggahan bernada penghinaan yang ditujukan secara personal kepada dirinya di media sosial.
"Penyebabnya awal mula kan dari kejadian bak sampah itu, ada pembongkaran. Kemudian tiba-tiba muncul dari medsos banyak penghinaan-penghinaan. Kami tidak pernah membalas. Itu langsung ditujukan ke pribadi abdi (saya)," tuturnya.
Merasa terancam, ES mengaku sempat menyampaikan persoalan tersebut ke pihak kepolisian. Namun, saat berpapasan langsung dengan korban di lapangan, emosinya tersulut setelah sempat memastikan identitas korban.
"Secara spontan kami bertemu dengan orang itu. Ditanyain, 'Nama kamu tuh ini?'. Dia menjawab, 'Iya', katanya sambil berdiri melawan. Spontan itu dipukul, secara refleks saya langsung ada tindakan seperti itu," beber ES.
Lebih lanjut, ES membantah tudingan keluarga korban yang menyebut aksi pemukulan tersebut melibatkan sekelompok orang atau loyalisnya. Menurutnya, pemukulan dilakukan sendiri tanpa ada keterlibatan pihak lain.
"Itu juga bukan pengeroyokan (penganiayaan bersama-sama) karena tidak ada orang lain yang ikut serta. Sendiri, betul. Setelah kejadian, mereka langsung kabur alasannya mau mencari temannya mau menyerang," imbuhnya.
Mengenai proses hukum yang tengah berjalan di kepolisian, ES mengaku siap mengikuti prosedur yang ada. Ia juga menyebut telah mengantongi sejumlah bukti tangkapan layar terkait ancaman yang diterimanya. "Kita ikuti saja langkah mereka, kita ikuti. Bukti ancaman dan fotonya ada, nanti disiapkan," pungkasnya.