NADIKABAR.COM — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berencana untuk membahas peluang kemitraan dengan para pelaku usaha asal China untuk mengoptimalkan pengembangan industri budaya dalam negeri.
Ditemui usai menghadiri “Guangdong Meets the Asia‑Pacific – China Finds: Guangdong Goods, Global Reach Indonesia Promotion Event”, Ketua Komite Tetap Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kadin Indonesia Ivan Chen mengatakan saat ini pihaknya baru menjajaki kerja sama industri budaya dengan Jepang dan Korea Selatan.
“(Penjajakan kerja sama industri budaya) dari China belum. Makanya, mungkin setelah acara ini kami akan lanjut untuk berdiskusi supaya bagaimana kami bisa mendorong kerjasama antarkedua negara,” kata Ivan Chen menjawab pertanyaan ANTARA di Jakarta, Selasa sore (22/9).
Ia menilai ekosistem industri budaya nasional belum terbentuk dengan baik, kendati banyak produknya – seperti film, musik, dan gim – yang telah dikenal di kancah internasional.
Pihaknya berupaya membangun ekosistem tersebut agar mampu bersaing dengan industri budaya global dengan mendorong kerja sama produksi dengan pelaku industri negara lain dengan ekosistem yang sudah lebih maju.
Ivan menuturkan, pengembangan industri budaya nasional saat ini difokuskan bagi para pelaku usaha kelas menengah, mengingat kelompok tersebut tidak memiliki program pembinaan yang memadai selama 10 tahun terakhir.
Dampaknya, lanjut dia, banyak industri menengah yang gulung tikar, sehingga jumlah masyarakat kelas menengah menyusut hingga 9 juta orang dalam kurun waktu lima tahun sepanjang 2019-2024.
Ia berharap upaya untuk menghidupkan kembali industri tingkat menengah tidak hanya mendorong semakin banyak masyarakat naik kelas, tapi juga dapat menciptakan efek pengganda dan meningkatkan kecepatan perputaran uang untuk mendukung pertumbuhan industri kecil dan mikro di bawahnya.
Ivan menuturkan, saat ini neraca perdagangan di sektor industri budaya antara Indonesia dan China masih mencatatkan defisit. Sebagai contoh, gim mencatatkan total transaksi domestik hingga Rp35 triliun per tahun dengan 99 persen pangsa pasar dikuasai oleh produk asal China.
Padahal, Indonesia memiliki sekitar 200 juta pemain gim dan industri tersebut tercatat 10 kali lipat lebih besar dibanding industri film di tingkat nasional.
Ia mendorong agar pemerintah lebih memperhatikan sektor tersebut agar Indonesia tidak hanya sebatas menjadi pasar bagi berbagai produk budaya global, tapi juga mampu membangun industri budaya nasional yang kuat serta membuka akses untuk karya anak-anak bangsa ke pasar hiburan global.
“Sebagai generasi muda kita nggak boleh abai (terhadap potensi di industri budaya), karena bakal jadi opportunity loss (kehilangan peluang),” ujar Ivan.
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT) Al Busyra Basnur menggarisbawahi bahwa peningkatan kerja sama antarkedua negara membutuhkan keterlibatan sosial tingkat akar rumput, bukan hanya sekadar mengandalkan peran pemerintah.
Ia memandang adanya potensi kerja sama yang besar di tingkat daerah antara China dan Indonesia melalui program sister city dan sister province, salah satunya dengan Provinsi Guandong yang memiliki nilai Produk Domestik Bruto (PDB) hampir setara dengan seluruh negara di Asia Tenggara.
“Justru banyak sekali potensi itu di daerah-daerah… Daerah memiliki potensi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Jakarta itu sendiri dalam meningkatkan hubungan dan kerja sama antara Indonesia dengan Guangdong, khususnya kerjasama ekonomi” ucap Al Busyra Basnur.
Senada dengan Basnur, Presiden Nanfang Media Group (Nanfang Daily) Liu Qiyu – selaku penyelenggara acara – juga menekankan pentingnya peran masyarakat luas dan kelompok nonpemerintah dalam mendukung kerja sama antara Indonesia dan China.
Ia berharap penyelenggaraan “Guangdong Meets the Asia‑Pacific – China Finds: Guangdong Goods, Global Reach Indonesia Promotion Event” dapat menciptakan hubungan ekonomi dan sosial yang semakin kuat serta berdampak bagi kedua negara.