Ia menyebut produktivitas tembakau di Zimbabwe dapat mencapai sekitar tiga ton per hektare, sedangkan rata-rata produktivitas tembakau di Indonesia masih berkisar satu ton per hektare.
Kesenjangan ini menjadi peluang bagi petani dalam negeri untuk meningkatkan hasil panen melalui perbaikan teknik budidaya dan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan karakteristik lahan serta kebutuhan industri.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah tembakau Virginia yang pasokannya di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri sehingga Indonesia masih bergantung pada impor dari sejumlah negara, termasuk Zimbabwe dan Brasil.
Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia mengimpor sekitar 121 ribu ton tembakau per tahun dengan nilai mencapai Rp18 triliun, yang antara lain berasal dari China, India, Brasil, Zimbabwe, Filipina, dan Amerika Serikat.