Dari sisi ekonomi lokal, penyelenggaraan MotoGP Mandalika turut menggerakkan aktivitas UMKM, tenaga kerja, transportasi, akomodasi, ekonomi kreatif, serta sektor pariwisata. Tingkat kepuasan tenaga kerja dan relawan tercatat sebesar 5,51 dari skala 6, sementara kepuasan pelaku UMKM dan tenant mencapai 5,23.
Selain dampak ekonomi, eksposur global MotoGP Mandalika juga memberikan nilai promosi bagi Indonesia dan Mandalika. Kajian mencatat Advertising Value Equivalency (AVE) sebesar 361,6 juta euro atau sekitar Rp6,9 triliun.
Maya menambahkan, berbagai temuan tersebut menjadi pembelajaran penting bagi InJourney dalam mengembangkan sport tourism di Indonesia, termasuk melalui penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia di The Mandalika.
"Data dan pembelajaran ini menjadi modal penting untuk terus melakukan improvement. Kami ingin setiap penyelenggaraan event internasional di Indonesia mampu meninggalkan legacy, baik dalam bentuk peningkatan kualitas destinasi, kapasitas SDM dan talenta lokal, pertumbuhan UMKM, maupun semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai destinasi sport tourism dunia," kata Maya.
Sebagai bagian dari ekosistem InJourney, ITDC berperan dalam pengembangan The Mandalika sebagai kawasan pariwisata sekaligus destinasi sport tourism. Plt. Direktur Utama ITDC Ahmad Fajar mengatakan temuan dalam kajian Bappenas memperkuat pentingnya mentransformasi dampak event menjadi manfaat pembangunan kawasan dalam jangka panjang.
"MotoGP Mandalika menunjukkan bahwa event olahraga internasional bukan sekadar tontonan, tetapi dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi dan pengembangan kawasan secara berkelanjutan. Bagi ITDC, momentum ini harus ditransformasikan dari event-based economy menjadi event-led development, sehingga dampaknya tidak berhenti ketika balapan selesai, tetapi terus dirasakan oleh kawasan dan masyarakat," ujar Fajar.
Fajar juga menambahkan dengan pengalaman lebih dari 52 tahun, ITDC terus memperkuat perannya sebagai Master Developer dan Asset Manager melalui pengembangan infrastruktur, fasilitas, dan ekosistem destinasi yang terintegrasi, serta kolaborasi dengan pelaku industri dan masyarakat.
"Inilah bagian dari komitmen kami untuk menjadikan The Mandalika sebagai destinasi sport tourism berkelas dunia yang hidup 365 hari, sekaligus menciptakan nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan," tambahnya.