Saat itu, ia mendapati mayoritas perkebunan warga masih mengandalkan sistem monokultur. Ketergantungan pada satu jenis tanaman membuat perekonomian petani sangat rentan saat harga komoditas tersebut anjlok. Kondisi ini mendorongnya mencari solusi lewat diversifikasi tanaman.
"Saya berpikir, kenapa kita selalu berpatokan pada kebun monokultur? Begitu harga komoditas utama jatuh, petani langsung terdampak. Dari situ timbul pemikiran, kenapa tidak mencoba diversifikasi tanaman?" ujarnya.
Titik balik perjalanan ini terjadi saat Yohana menghadiri konferensi di Filipina pada 2018. Wawasannya terbuka ketika mengenal metode pengembangan kakao berbasis agroforestri. Konsep pemanfaatan lahan secara terpadu itulah yang kemudian mengilpirasinya untuk membudidayakan kakao di Kalimantan Barat.
Saat ini, pengembangan kakao Kalara Borneo telah menjangkau beberapa daerah, meliputi Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, dan yang terbaru Sanggau. Model yang diterapkan tidak lagi membiarkan petani berjuang sendirian menghadapi urusan produksi hingga pemasaran.
Petani mendapat pendampingan intensif untuk menerapkan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP). Usai panen, biji kakao basah dijual ke koperasi untuk melakoni proses pascapanen, termasuk fermentasi dan pengeringan. Setelah bertransformasi menjadi biji kering berkualitas, barulah Kalara Borneo membelinya untuk diolah dan dipasarkan ke sektor hilir.
"Ekosistemnya memang sudah terbentuk. Petani menjual biji basah ke koperasi, lalu koperasi mengurus pascapanennya. Begitu dikeringkan, barulah dijual ke Kalara Borneo," jelas Yohana.
Menurutnya, skema ini memberi dua jaminan vital bagi petani: kepastian pasar dan ketetapan harga. Kini, ada tiga koperasi yang menaungi sekitar 162 petani dalam ekosistem tersebut. Khusus di Sanggau saja, tercatat 45 petani telah tergabung dalam satu koperasi produksi.
Produk olahan Kalara Borneo pun mulai merambah berbagai lini di Kalimantan Barat, dari hotel, toko suvenir, bandara, hingga toko kue yang membutuhkan cokelat berkualitas sebagai bahan baku.
Peluang pasar bahkan mulai merambah ke kancah internasional lewat penjajakan ke pasar Eropa. Namun, ekspor tak cuma soal menemukan pembeli. Yohana mengungkapkan, pihaknya masih membutuhkan mitra importir lokal di negara tujuan yang mengantongi izin resmi untuk menerima produk impor.
Di tengah potensi pasar yang makin terbuka, menjaga kualitas tetap menjadi tantangan utama. Menurut Yohana, potensi kakao Kalimantan Barat sangat besar. Sayangnya, sebagian petani masih menerapkan pascapanen tradisional: memecah buah, mencuci biji, lalu menjemurnya begitu saja.
Padahal, pencucian biji justru mengikis aroma dan cita rasa khas yang menjadi karakter utama kakao. "Kalau dicuci, aroma dan rasanya bisa hilang. Bobot kakaonya juga berkurang, jadi petani malah rugi," tambahnya.
Oleh karena itu, fokus Kalara Borneo berikutnya adalah mendongkrak kapasitas produksi biji kakao fermentasi sekaligus mengedukasi petani mengenai standar mutu. Dengan fermentasi yang benar, biji kakao tak lagi sekadar bahan mentah bernilai rendah, melainkan komoditas bernilai tinggi yang siap bersaing di industri cokelat.
Pemerintah daerah memandang pengembangan kakao sebagai bagian penting dari strategi memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau, Syafriansyah, mengapresiasi langkah GIZ dan Kalara Borneo yang konsisten mendampingi para pekebun.
Ia menilai pendampingan dari hulu ke hilir berhasil menjawab salah satu masalah krusial petani, yakni kepastian pasar. Syafriansyah mengungkapkan bahwa kakao sebenarnya bukan tanaman asing di Sanggau. Sekitar dekade lalu, luas kebun kakao di wilayah ini sempat menembus 3.000 hektare yang tersebar di Kembayan, Sekayam, Entikong, hingga kawasan perbatasan lainnya.
Arah pengembangan ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Heronimus Hero, menegaskan bahwa kakao memegang peran strategis dalam peta pembangunan ekonomi wilayah.