Bahkan, kakao telah resmi masuk dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Barat 2025–2029 sebagai bagian dari agenda ekonomi hijau unggulan melalui program percontohan produk lokal berbasis sumber daya alam.

"Kakao bukan sekadar komoditas perkebunan biasa, melainkan peluang besar untuk menggerakkan transformasi ekonomi Kalimantan Barat, terutama lewat pengembangan produk unggulan dan hilirisasi," tegasnya.

Menurut Heronimus, kakao memiliki keunggulan tersendiri karena selaras dengan pendekatan agroforestri. Melalui konsep ini, tanaman kakao dapat tumbuh berdampingan dengan komoditas lain. Pengelolaan lahan pun tak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberagaman vegetasi dan kelestarian lingkungan.

Semangat keberlanjutan tersebut tercermin dalam peluncuran Cokelat "Sanggau Origin" lewat diskusi bertajuk "Sanggau Origin: Membangun Masa Depan Kakao melalui Pengolahan Hilir dan Kolaborasi" yang sukses digelar pada Kamis, 17 September 2026.

Inisiatif ini lahir dari kolaborasi lintas sektor antara Dinas Perkebunan dan Peternakan, GIZ selaku mitra pembangunan, Kalara Borneo dari pihak swasta, serta Yayasan Langkau Onet dan CU Mura Kopa sebagai pendamping di lapangan.

Hadirnya produk "Sanggau Origin" menjadi bukti nyata bagaimana biji kakao dari kebun petani lokal mampu bertransformasi menjadi produk olahan bernilai tambah yang mengusung identitas daerah.

Plt. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Rino Anteno Tengo, memaparkan bahwa berdasarkan data Statistik Disbunak Kalbar 2025, luas areal tanaman kakao di Kalimantan Barat telah mencapai 3.185 hektare.

Dari total luasan tersebut, sekitar 260,49 hektare tergolong tanaman belum menghasilkan, 1.472,57 hektare merupakan tanaman menghasilkan, dan 1.452,76 hektare sisanya adalah tanaman tua atau rusak. Data ini menunjukkan bahwa Kalimantan Barat menyimpan potensi besar, sekaligus pekerjaan rumah yang tak kalah menantang.

Pengembangan kakao tidak bisa sekadar berfokus pada perluasan lahan. Peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman, perbaikan mutu, penguatan kelembagaan petani, diversifikasi produk olahan, hingga perluasan akses pasar harus digarap secara beriringan.

"Pengembangan kakao harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman, peningkatan mutu, penguatan kelembagaan pekebun, hingga pengembangan produk olahan dan perluasan pasar," ujar Rino.

Bagi Rino, hadirnya Sanggau Origin menjadi bukti bahwa kakao dari kebun petani lokal tak harus berhenti sebagai bahan mentah. Berbekal inovasi dan kolaborasi, kakao dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang sekaligus mengusung identitas daerah.

Meski demikian, perjalanan panjang masih membentang. Kepastian pasokan bahan baku, penguatan kelembagaan petani, peningkatan kapasitas UMKM, konsistensi kualitas, branding, hingga perluasan pasar masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama.

Namun bagi Rino, hal terpenting adalah memastikan nilai tambah dari seluruh proses hilirisasi ini dapat dirasakan langsung oleh para pekebun.

Bagi Maria Tulia, transformasi besar seperti hilirisasi atau ekonomi hijau mungkin terdengar rumit. Ia mengenalnya dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: memanen kakao, memecah kulit buah dengan sebatang kayu, lalu menjual bijinya ke koperasi. Dari kebun kecil itulah, harapan mulai menemukan bentuknya.

Dengan lahan seluas satu hektare dan sekitar 200 batang kakao, Maria semakin yakin bahwa penghidupan petani tidak harus bergantung pada satu komoditas. Kakao perlahan mengubah cara pandang terhadap kebun: bukan sekadar tempat bercocok tanam, melainkan ruang ekonomi yang masih dapat dikembangkan, dari hulu hingga hilir.

Kini, saat biji kakao dari kebun-kebun di Sanggau bertransformasi menjadi cokelat beridentitas daerah, perjalanan dari tangan petani menuju pasar yang lebih luas menemukan babak baru. Di sana, kakao tak lagi sekadar hasil panen, tapi menjadi wujud nyata dari ikhtiar memberi nilai tambah, membuka peluang, dan melambungkan harapan bahwa kebun kecil pun mampu memberi hasil yang melampaui batas lahannya.