NADIKABAR.COM — Flavio Bolsonaro, capres Brasil yang kalah dalam pilpres berada di Florida, Amerika Serikat (AS), setelah meninggalkan negaranya meski dicegah ke luar negeri. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut AS tak terlibat langsung kaburnya Bolsonaro tersebut.
Flavio yang merupakan seorang Senator dan anak mantan Presiden Jair Bolsonaro ini diketahui kabur dari Brasil setelah menolak untuk mengakui kekalahannya dari Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dalam pilpres 25 Oktober kemarin. Sikap menentang yang ditunjukkan Flavio ini mengisyaratkan gejolak yang terus berlanjut di Brasil.
Dalam rentetan pernyataan yang memicu kebingungan via media sosial X pada Rabu (28/10), seperti dilansir AFP, Kamis (29/10/2026), Flavio pada awalnya menyebut dirinya sebagai "presiden sejati Brasil", sebelum mengubah postingannya dengan memakai kata "pemimpin".
"Saya adalah pemimpinnya, dan para penjahat yang mencuri pemilu Brasil merupakan bagian dari organisasi kriminal yang telah menegakkan tirani," kata Flavio dalam pernyataannya yang telah direvisi tersebut, sembari mengecam adanya "kecurangan pemilu".
"Saya akan memimpin oposisi dari sini," tegasnya, merujuk pada keberadaannya di AS.
Flavio kalah secara dramatis dari Lula da Silva dalam putaran kedua pilpres Brasil pada 25 Oktober, setelah sebelumnya menang secara mengejutkan dalam putaran pertama pilpres pada 4 Oktober lalu.
Postingan media sosial itu menjadi pernyataan pertama Flavio sejak meninggalkan Brasil. Politikus berusia 45 tahun ini, dan keluarganya, tiba dengan jet pribadi di Bandara Eksekutif Opa-Locka, dekat Miami, AS pada Rabu (28/10) waktu setempat.
Dia secara diam-diam meninggalkan Brasil melalui Argentina dan Ekuador, setelah mengungkapkan kepada publik bahwa Mahkamah Agung memerintahkan dirinya menyerahkan paspor-paspornya dan melarangnya ke luar negeri. Flavio sebelumnya menegaskan tidak berniat meninggalkan Brasil.
Pencegahan ke luar negeri itu diajukan oleh Kepolisian Brasil kepada Mahkamah Agung, dengan alasan adanya risiko bagi Flavio untuk kabur ke luar negeri terkait serangkaian penyelidikan dugaan korupsi dan pencucian uang yang tengah berlangsung terhadapnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut AS tak terlibat langsung kaburnya Bolsonaro tersebut. Dilansir AFP, Minggu (1/11/2026), Presiden AS Donald Trump mengatakan Bolsonaro, bagaimanapun, dapat tinggal di Amerika Serikat "selama yang ia inginkan."
Bolsonaro, yang kalah dalam pemilihan presiden pada putaran kedua hari Minggu, tiba bersama keluarganya di AS pada hari Rabu setelah pengadilan memerintahkan penyitaan paspornya di tengah berbagai penyelidikan yang ditujukan kepadanya. Ribio mengatakan Bolsonaro telah memiliki visa AS sebelumnya.
Bolsonaro, yang kalah dalam pemilihan presiden pada putaran kedua hari Minggu, tiba bersama keluarganya di AS pada hari Rabu setelah pengadilan memerintahkan penyitaan paspornya di tengah berbagai penyelidikan yang ditujukan kepadanya. Rubio mengatakan Bolsonaro telah memiliki visa AS sebelumnya.
"Dia sebelumnya sudah memiliki visa, dan presiden memutuskan untuk mengizinkannya masuk ke negara ini," ujar Rubio dalam konferensi pers di Atlanta, Georgia, tempat ia menjamu para menteri luar negeri G20 untuk pertemuan selama dua hari.
Rubio menambahkan, "pemerintah AS tidak terlibat secara langsung" dalam pengaturan yang dibuat Bolsonaro untuk meninggalkan negaranya.
Setelah pemungutan suara, pria berusia 45 tahun itu meninggalkan Brasil melalui Argentina dan Ekuador dengan pesawat, yang menurut beberapa media AS, termasuk The New York Times dan The Wall Street Journal disewa oleh Jason Miller, seorang penasihat Trump.
Kepala maskapai penerbangan itu mengungkap, bahwa biaya pesawat yang membawa keluarga Bolsonaro ke AS dibayarkan oleh pihak perantara melalui rekening bank di AS.