NADIKABAR.COM — Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk melompat menjadi negara maju. Hal tersebut didasarkan kepada bonus demografi yang dimiliki Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Jenderal Sigit saat memberikan kuliah umum dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Tahun 2026 di Kota Medan, Sumatera Utara, Senin (28/9/2026).

Jenderal Sigit mengatakan bonus demografi menjadi peluang strategis karena Indonesia akan memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Momentum tersebut harus dimanfaatkan dengan mempersiapkan SDM yang unggul, berkualitas, dan berdaya saing.

"Kesempatan ada di depan kita. Bagaimana kemudian kita bisa memanfaatkan semua, dan itu tentunya butuh kolaborasi," ujar Jenderal Sigit.

Menurut Jenderal Sigit, bonus demografi tidak otomatis membawa Indonesia menjadi negara maju. Peluang tersebut harus diikuti peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan kesehatan dan gizi masyarakat.

Jenderal Sigit mencontohkan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan sebagai negara yang berhasil memanfaatkan momentum bonus demografi dengan memperkuat pendidikan, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, menciptakan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, serta menjaga kualitas kesehatan masyarakat.

Sebaliknya, Brasil dan Thailand menjadi contoh negara yang belum berhasil mengoptimalkan momentum bonus demografi. Hal tersebut antara lain dikaitkan dengan belum optimalnya kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja, terbatasnya lapangan kerja berkualitas, serta perkembangan teknologi dan industri yang belum mampu meningkatkan produktivitas secara maksimal.

Jenderal Sigit menekankan pengalaman berbagai negara tersebut menjadi pelajaran penting agar Indonesia tidak menyia-nyiakan momentum bonus demografi. Terlebih, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia dan kekayaan sumber daya alam.

Indonesia memiliki cadangan nikel sebesar 62 juta ton atau 44,3 persen dari cadangan global. Cadangan emas Indonesia mencapai 3.600 ton dan menempatkan Indonesia pada peringkat keempat terbesar di dunia.

Pemerintah juga telah melakukan groundbreaking 26 proyek hilirisasi komoditas strategis dengan total investasi Rp231 triliun. Hilirisasi diharapkan memberikan nilai tambah bagi perekonomian sekaligus membuka semakin banyak lapangan kerja.

Di sektor energi, pemerintah menerapkan biodiesel B50 untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar yang diproyeksikan dapat menghemat devisa hingga Rp170 triliun.

Jenderal Sigit mengatakan berbagai potensi tersebut menjadi modal penting untuk mendorong transformasi Indonesia menuju negara maju. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mempersiapkan generasi produktif sekaligus mengelola sumber daya yang dimiliki untuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Karena itu, Jenderal Sigit mengajak mahasiswa sebagai bagian dari generasi yang akan berada pada usia produktif ketika bonus demografi mencapai puncaknya untuk terus meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan global.

Jenderal Sigit menegaskan keberhasilan memanfaatkan bonus demografi membutuhkan kolaborasi pemerintah, sektor swasta, masyarakat, kalangan akademisi, serta generasi muda. "Ini semua bisa berjalan kalau kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat, dan para cendekiawan ini bisa bersatu. Ini kuncinya," pungkas Jenderal Sigit.