"Saya mendengar ada hobi baru dari teman-teman; hobinya menjadi relawan untuk menyalurkan energi yang berlebih. Ini hal yang sangat positif," ucapnya.

Bahkan, Sigit secara khusus memuji militansi anggota Garda Satya NKRI yang dianggap setara dengan pasukan khusus kepolisian dalam hal dedikasi di lapangan. Ia berseloroh bahwa ke depannya, peran mereka dalam penanggulangan bencana mungkin akan sangat dominan.

"Jangan sampai nanti saya malah mengirim tugas untuk menghadapi bencana lebih banyak ke teman-teman Garda Satya daripada anggota Brimob, karena sama-sama militan. Kolaborasi di lapangan ini sangat baik karena negara kita ini nomor dua yang paling banyak terjadi bencana di dunia," imbuhnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam sambutannya, Kapolri menekankan bahwa perubahan besar ini tidak lepas dari pola pendekatan baru yang diterapkan oleh Densus 88 Antiteror Polri Menurutnya, alih-alih menggunakan pendekatan hukum yang destruktif atau hard approach, Polri kini lebih mengedepankan pendekatan kemanusiaan.

"Densus kali ini menggunakan pola pendekatan yang tidak biasa. Yang tadinya memukul, sekarang malah dirangkul. Yang tadinya dianggap musuh, sekarang dianggap sebagai kawan atau sahabat," jelas Sigit.

Ia mengibaratkan pendekatan ini dengan falsafah Jawa, di mana merangkul dan menghargai jauh lebih efektif untuk melunakkan hati daripada kekerasan.