NADIKABAR.COM — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tyang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dampak terhadap habitat bekantan dalam waktu lama, gangguan terhadap vegetasi dan ketersediaan sumber pakan juga dapat berlanjut selama proses pemulihan ekosistem.
Founder Sahabat Bekantan Indonesia yang juga Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bidang Biologi Konservasi Amalia Rezeki, mengatakan bekantan memiliki ketergantungan yang kuat terhadap vegetasi tepian sungai dan kawasan lahan basah.
“Asap dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu sistem pernapasan manusia dan satwa. Kita juga perlu memperhatikan kemungkinan perubahan perilaku, misalnya aktivitas makan, beristirahat, atau pergerakan kelompok ketika kondisi lingkungannya terganggu,” katanya di Banjarbaru, dilaporkan Sabtu.
Dampak Karhutla terhadap bekantan dapat terjadi melalui sejumlah mekanisme, mulai dari gangguan kualitas udara akibat asap, kerusakan vegetasi tepian sungai, hingga berkurangnya tutupan pohon yang menjadi bagian dari habitat satwa tersebut.
Ia menegaskan bahwa tingkat gangguan kesehatan pada bekantan di lokasi tertentu tetap perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pemantauan lapangan.
Selain asap, kebakaran pada vegetasi tepian sungai menjadi perhatian karena kawasan tersebut berfungsi sebagai tempat bekantan mencari makan, berlindung, beristirahat, sekaligus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Ketika vegetasi mengalami kerusakan, bekantan dapat kehilangan sebagian sumber daya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Dalam kondisi tertentu, kelompok bekantan juga dapat berpindah untuk mencari sumber pakan dan tempat berlindung yang masih tersedia.