βPerpindahan atau migrasi ini tentu perlu kita pantau, karena bisa saja mereka memasuki habitat yang kualitasnya kurang baik atau menghadapi gangguan dari aktivitas manusia,β jelasnya.
Dia mengatakan dampak kerusakan habitat juga tidak serta-merta berakhir setelah api berhasil dipadamkan.
Vegetasi yang terbakar membutuhkan waktu untuk kembali tumbuh, sedangkan kebutuhan satwa terhadap sumber pakan dan tempat berlindung berlangsung setiap hari.
Menurutnya, pemulihan pascakarhutla perlu menjadi bagian dari perhatian konservasi. Pemantauan dapat mencakup kondisi vegetasi, ketersediaan pakan alami, kualitas habitat, serta keberadaan kelompok bekantan di kawasan terdampak.
Ia mencontohkan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak yang terus mendapat perhatian dari pihaknya, khususnya dalam memantau kondisi habitat, ketersediaan pakan alami, dan perubahan lingkungan.
Dia menekankan, penetapan suatu lokasi sebagai terdampak langsung maupun tidak langsung harus didukung hasil pemantauan dan data lapangan.
βDalam konservasi, kita tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari berhasil atau tidaknya memadamkan api. Kita juga harus melihat apakah habitatnya masih mampu mendukung kehidupan bekantan setelah kebakaran terjadi,β katanya.