Menurutnya, upaya menjaga habitat bekantan juga menjadi bagian dari menjaga ekosistem lahan basah yang memiliki manfaat lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat.
βKetika kita menjaga vegetasi ekosistem, menjaga kondisi hidrologi, dan mencegah kerusakan habitat, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut,β paparnya.
Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kalsel menerima laporan adanya 12 ekor bekantan mati terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Berdasarkan catatan BKSDA Kalsel, populasi bekantan di Kalimantan Selatan pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 3.700 individu.
Sekitar sepertiga populasi berada di kawasan konservasi, sedangkan dua pertiganya berada di luar kawasan konservasi, seperti hutan produksi, hutan lindung, dan areal penggunaan lain (APL).
Sebanyak 12 bekantan yang terdampak karhutla di Balimau tersebut berada di kawasan APL yang merupakan tanah milik desa setempat.
Ke depan, BKSDA Kalsel berkomitmen untuk terus melakukan pendataan terhadap kawasan APL yang menjadi habitat satwa liar.