NADIKABAR.COM — Karhutla tak hanya meninggalkan lahan hangus dan kepulan asap. Di sejumlah destinasi, kebakaran mulai mengusik aktivitas wisata, mengancam ekosistem, hingga memukul kehidupan masyarakat yang menggantungkan nasib pada sektor pariwisata.

Salah satu yang paling terasa adalah kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kebakaran pada 22 Agustus 2026 lalu yang diduga akibat korsleting listrik ini menghanguskan ratusan bangunan di kawasan tersebut, termasuk rumah adat dan tempat usaha warga yang selama ini jadi bagian dari aktivitas wisata.

Belum selesai cerita dari Sade, karhutla juga menggerogoti destinasi lain, seperti di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup. Kondisi itu membuat aktivitas wisata di Taman Wisata Alam Kawah Ijen ditutup total sejak 4 September 2026 hingga batas yang belum ditentukan.

Dampaknya meluas hingga menyentuh satwa. Orang utan jantan dewasa bernama Sempurna ditemukan dalam kondisi lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Ketapang, Kalimantan Barat, sebelum akhirnya mati.

Rentetan kejadian itu membuat persoalan karhutla tak lagi bisa dilihat sebatas urusan api dan pemadaman. Pakar lingkungan yang juga dosen Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai karthula sebagai risiko langsung bagi sistem pariwisata karena banyak destinasi Indonesia bergantung pada hutan, gunung, taman nasional, dan lanskap alam.