NADIKABAR.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak langsung kepada tiga orang utan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Induk dan dua anak orang utan itu terjebak di kawasan perkebunan warga.

Ketiga orang utan itu akhirnya dievakuasi setelah jalur pergerakan mereka menuju hutan terputus akibat kebakaran. Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul mengatakan ketiga orang utan tersebut terdiri dari induk betina dan dua anak, masing-masing seekor bayi dan seekor remaja. Mereka kemudian diberi nama Mama Yuni, Yuni, dan Pura.

Evakuasi dilakukan tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), YIARI, serta masyarakat di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang.

"Tim melakukan evakuasi setelah hasil pemantauan menunjukkan ketiga orang utan berada dalam kondisi terancam. Selain mendekati permukiman warga, masih terdapat titik api di sekitar lokasi," kata Silverius dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026)

Dia mengatakan tiga orang utan tersebut sebenarnya telah terpantau berada di kawasan perkebunan masyarakat sejak awal 2026. Tim Orang utan Protection Unit (OPU) YIARI selama ini memantau keberadaan satwa liar yang berpotensi berinteraksi dengan masyarakat di sejumlah wilayah Ketapang dan Kayong Utara.

"Meski habitat di sekitar Tanjungpura telah terfragmentasi akibat perkebunan, orang utan masih dapat bertahan di sisa-sisa hutan," kata dia.

Situasi berubah setelah kebakaran besar terjadi pada Juli dan Agustus 2026. Fragmen hutan yang menjadi jalur pergerakan orangutan hangus terbakar. Sumber pakan ikut hilang dan konektivitas menuju kawasan hutan terputus.