"Akibatnya, tiga orang utan tersebut terjebak di perkebunan yang berbatasan langsung dengan permukiman warga," kata Silverius.
Menurutnya, kejadian tersebut menunjukkan dampak karhutla terhadap satwa liar tidak berhenti pada saat api padam. "Ketika hutan terbakar dan koridor pergerakan terputus, orang utan kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah. Pada akhirnya, mereka terdorong masuk ke kebun dan semakin dekat dengan permukiman manusia," kata Silverius.
Menurutnya lagi, kondisi tersebut sekaligus meningkatkan potensi konflik tim redaksi orang utan dan masyarakat. "Kalau kita hanya menyelamatkan orang utan ketika mereka sudah terjebak di kebun, kita sebenarnya sedang menangani akibat, bukan akar persoalan," kata dia.
Proses evakuasi berlangsung tidak mudah. Tim gabungan tiba di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB dan langsung menghadapi kabut asap akibat karhutla yang masih terjadi di sekitar wilayah tersebut.
Tim menggunakan senapan bius untuk melumpuhkan ketiga orang utan. Dosis anestesi dihitung secara cermat oleh dokter hewan berdasarkan perkiraan berat badan dan kondisi masing-masing satwa.
Pergerakan orang utan yang lincah dan terus berpindah membuat proses evakuasi berlangsung panjang. Tim membutuhkan waktu sekitar 8 jam hingga ketiga orang utan berhasil dianestesi.
Setelah itu, tim medis melakukan pemeriksaan menyeluruh. Ketiganya juga diberikan cairan infus untuk memastikan kondisi fisik tetap stabil sebelum dipindahkan.