"Tren yang kita sedang lihat sebenarnya di banyak sekali negara di seluruh dunia adalah yang lakukan self-harm semakin lama semakin muda. Dan terutama kepada kaum perempuan, young girls," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dan diteliti lebih lanjut untuk melihat apakah Indonesia mengikuti tren serupa.

Lantas, apa yang menjadi pemicu seseorang melakukan percobaan bunuh diri?

Imran mengatakan berdasarkan kasus yang ditemui, faktor dukungan keluarga atau support system menjadi salah satu masalah utama. Berikutnya adalah persoalan dalam pertemanan, termasuk bullying.

"Pertama adalah dukungan keluarga, jadi masalah support system-nya. Kemudian dari pertemanan, bullying itu juga ada. Kemudian masalah ekonomi," jelasnya.

Menariknya, persoalan ekonomi bukan menjadi faktor utama yang paling sering ditemukan.

"Kalau kita pikirkan penyebab mereka mau bunuh diri itu karena ekonomi ternyata enggak. Justru malah yang keluarga. Jadi ekonomi itu alasan nomor tiga masalahnya, atau nomor dua. Jadi bukan nomor satu," sambungnya.

Menurut Imran, keluarga memiliki peran penting dalam pencegahan bunuh diri. Terlebih di Indonesia yang memiliki karakter masyarakat komunal.

Oni juga menekankan pentingnya keluarga sebagai sistem pendukung bagi anak dan remaja yang sedang mengalami masalah kesehatan jiwa.

"Kalau kita benar-benar mau mencegah bunuh diri secara serius, kita tidak bisa melupakan faktor keluarga. Terutama di negara yang komunal seperti Indonesia," katanya.