NADIKABAR.COM β Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Kabupaten Kepulauan Seribu menyebutkan kasus stunting atau penyakit gagal tumbuh pada anak di daerah kepulauan tersebut dipicu akibat kurangnya asupan gizi hingga akibat infeksi.
βKami mencatat dua hal ini menjadi penyebab utama kasus stunting di Kepulauan Seribu. Asupan gizi kurang, yakni 76,74 persen dan infeksi 13,9 persen,β kata Kepala Sudinkes Kabupaten Kepulauan Seribu dr Ghamal Ahmad Permana di Jakarta, Selasa.
Hingga Oktober 2026 ini tercatat 38 kasus stunting terjadi di wilayah kepulauan tersebut, dengan prosentase kasus stunting di Kepulauan seribu yaitu 2,24 persen.
"Angka di bawah nilai maksimal nasional yaitu, 15 persen,β kata Ghamal.
Pemkot Jakut telah melakukan berbagai upaya untuk menekan kasus stunting di Kepulauan Seribu seperti melakukan rujukan ke RSUD untuk balita yang terdiagnosa stunting.
Selain itu, melakukan konsultasi secara online (daring) antara puskesmas dengan dokter spesialis anak di RSUD. βDokter spesialis anak juga melakukan kunjungan ke pulau-pulau tempat puskesmas dan puskesmas pembantu dalam mengintervensi penyakit tersebut,β kata dia.
Sementara untuk balita yang telah terdiagnosa stunting akan diberikan pangan olahan untuk keperluan medis khusus (PKMK) sesuai dengan peraturan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta no 252 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) bagi Balita bermasalah gizi.
Pihaknya juga melakukan monitoring secara rutin dengan melakukan penimbangan balita di posyandu setiap bulan serta kunjungan rumah bila untuk tata laksana balita stunting.
βKami dan puskesmas juga menjalin kerjasama dengan lintas sektor terkait seperti Sudin PPAPP, Sudin Pendidikan, Sudin SDA, Sudin KPKP, dan pemangku kebijakan lainnya untuk mengintervensi dan mencegah terjadinya stunting di Kepulauan Seribu,β ujar Ghamal.