NADIKABAR.COM — Sekdaprov Jatim Adhy Karyono buka suara setelah tiga warga Jawa Timur meninggal dunia akibat sound horeg. Pemprov Jatim akan melakukan evaluasi lagi terkait aturan sound horeg.

"Tentu rasa prihatin yang dulu kita sudah menjadi perhatian, isu bahwa sound horeg itu harus dibatasi dengan desibelnya, kemudian kita juga melakukan kesepakatan dalam rangka untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat. Ini pembelajaran buat kita," kata Sekdaprov Jatim Adhy Karyono usai rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim, Rabu (2/9/2026).

Adhy mengatakan pihaknya bersama Forkopimda Jatim akan kembali mencari rumusan terbaik guna mengatasi masalah sound horeg.

"Kita perlu untuk melakukan konsolidasi lagi dengan stakeholder dan Forkopimda untuk bisa memastikan kalau ada pelanggaran yang demikian, ya, kita perlu menegakkan lagi ketentuan. Apakah memang sound horeg harus diatur untuk baik desibelnya, juga sekarang mengenai tempatnya untuk tidak yang bersentuhan dengan masyarakat di lapangan dan sebagainya," jelasnya.

Terkait aturan, Adhy menyebut para pengusaha sound horeg seharusnya mengikuti aturan yang sudah dikeluarkan oleh Pemprov Jati.

"Aturan kan sudah kuat, sudah kuat sebetulnya. Saya kira masyarakat di lapangan juga sudah tahu persis dan Bupati, Wali Kota yang memang sound horeg itu ada basisnya sebetulnya kan, ada di Malang, Ponorogo, dan sebagainya itu kan mereka sudah membatasi sendiri sebetulnya," jelasnya.

"Kasus ini memang terjadi di luar (perkiraan). Lama ya kita nggak pernah mendengar kasus ini lagi, tentu yang paling penting adalah imbauan kepada masyarakat, terutama para pengusaha sound horeg untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan, kesehatan telinga, dan juga tentu getaran-getaran rumah-rumah sekitarnya. Jadi volume, desibel harus diatur ketika mendekati pemukiman," tambahnya.

Karnaval menampilkan sound horeg memakan tiga korban jiwa di Jawa Timur selama bulan Agustus. Korban mulai warga biasa hingga kru dan penyewa.

Korban pertama adalah pria berinisial SN (29) yang tewas saat tengah tertidur di atas truk bermuatan sound horeg di Jalan Krasak, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, kepala terbentur gapura.

Korban kedua ialah Bonari (44), warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Bonari diduga tewas karena serangan jantung setelah menenggak arak. Ia tewas saat saat jalan kaki mengikuti karnaval sound horeg memperingati HUT ke-81 RI Minggu (23/8).

Dan terakhir adalaah Slamet Timbang (57). Warga Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember itu tewas tertimpa kanopi dan tembok saat mengantar istrinya ke apotek.

Insiden tragis itu terjadi di tengah suasana meriah gelaran karnaval dan parade sound horeg yang diselenggarakan pihak Desa Wringinagung, Sabtu (29/8) sekitar pukul 10.30 WIB.