NADIKABAR.COM — Di Blora, lele yang tersaji di piring makan bergizi sebagian datang dari kolam-kolam bioflok Koperasi Desa Merah Putih Kamolan. Seorang murid hanya melihat lauknya. Padahal di belakangnya ada perjalanan yang tidak tampak: benih ditebar bertahap agar panen tiba ketika dapur membutuhkan, ikan dibersihkan dan dijual Rp25.000 per kilogram kepada empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Transaksi itu menghubungkan belanja program dengan kegiatan produksi di desa.

Satu piring makan siang ternyata adalah ujung sebuah lingkaran. Pertanyaannya, berapa banyak uang yang membayar piring itu tinggal di desa sebelum pergi?

Dalam laporan dua tahun pemerintahan pada 20 Oktober 2026, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut Makan Bergizi Gratis (MBG) menjangkau 62 juta penerima manfaat dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) memberikan 108 juta layanan. Angka itu menunjukkan jangkauan. Di baliknya ada arus belanja pangan, distribusi, dan layanan yang mencapai banyak titik di seluruh negeri. Ke mana arus itu bermuara menentukan apa yang tertinggal di wilayah?