Risikonya tak melulu berasal dari satu sumber. Faktor iklim, musim kering, material bangunan, instalasi listrik, kepadatan aktivitas, hingga perilaku manusia dapat menjadi bagian dari persoalan yang perlu diantisipasi.
Di sisi lain, kemampuan bangkit setelah bencana juga menjadi bagian penting. Destinasi wisata yang tangguh bukan berarti destinasi yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan yang memiliki kesiapan untuk merespons dan memulihkan ketika bencana terjadi.
Karena itu, Deni menilai pembangunan pariwisata ke depan perlu bergeser dari sekadar mengejar destinasi baru menjadi memastikan destinasi yang telah dipromosikan kepada wisatawan memang siap dan aman.
Melalui pendekatan itu, kebakaran tak hanya menjadi cerita tentang api yang melalap destinasi. Kejadian itu bisa menjadi pengingat bahwa sektor pariwisata juga butuh sistem keselamatan dan ketahanan yang kuat agar wisatawan tetap nyaman dan kehidupan masyarakat di sekitarnya tetap berjalan.