NADIKABAR.COM β€” Warga Australia adalah kelompok yang paling skeptis soal kecerdasan buatan (AI) di dunia, bahkan saat teknologi ini mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, di kawasan Asia-Pasifik, banyak orang tetap menggunakan AI, sementara berbagai negara memiliki pendekatan tersendiri dalam mengantisipasi dampaknya.

Belakangan ini, Isabel Oar merasa lega saat menemukan kesalahan tata bahasa dalam sebuah email.

Kesalahan tersebut menandakan tulisan yang ia baca disusun oleh manusia, bukan kecerdasan buatan (AI).

"Saya merasa lumayan kesal ketika harus membalas email yang ternyata ditulis oleh AI," ujar guru yang berbasis di Queensland, Australia tersebut.

"Menurut saya, komunikasi seharusnya bersifat manusiawi. Jadi, saya tidak mau menggunakan AI untuk menulis."

Meski sempat menggunakan ChatGPT dari OpenAI untuk keperluan pemrograman dan hal lainnya, Isabel mulai jarang menggunakan AI, sama seperti pengguna lainnya yang ia kenal.

Kini, Isabel kurang memercayai AI, terutama setelah mengetahui teknologi ini bisa memberikan jawaban yang salah.

"Saya tidak lagi bertanya kepada AI. Saya masih menggunakan Google untuk mencari informasi."

Namun, adanya rangkuman di mesin pencari yang diproduksi oleh AI membuat teknologi ini seolah tak terhindarkan.

"Kita dipaksa menerimanya. Teknologi ini ada di mana-mana tanpa diminta," ujarnya.

Selama setahun terakhir, ABC berbicara dengan warga Australia mengenai harapan, keraguan, dan pengalaman mereka seiring dengan kemunculan AI di tempat kerja, rumah, dan dunia pendidikan.

Pandangan masyarakat berubah dengan cepat, dari hati-hati, antusias, hingga khawatir akan perubahan yang ditimbulkan.

Pengalaman Isabel juga tergambarkan dalam tanggapan ratusan orang yang merespons pertanyaan ABC tentang bagaimana AI mengubah hidup mereka.

Berikut adalah pendapat responden lainnya.

"Saya tidak percaya AI; namun, saya menggunakannya setiap hari karena AI membuat saya lebih percaya diri saat menulis."

"AI secara alami membuat penggunanya ketagihan. Model ini dikembangkan oleh perusahaan yang ingin Anda menggunakannya lebih sering, mirip cara kerja media sosial."

"Saya tidak begitu percaya informasi yang disajikan kepada saya dan kini cenderung membandingkan informasinya pada lebih dari satu produk… Meski begitu, saya tetap merasa alat ini sangat berguna dan menggunakannya setiap hari."

"Saya lebih percaya AI dibandingkan setahun yang lalu, namun dengan cara pandang yang berbeda. Saya memandangnya sebagai asisten yang sangat cakap, bukan sebagai pengganti manusia dalam hal pengalaman, keahlian, atau pandangan profesional."

"Tempat kerja sering menyuruh 'coba tanyakan ke [Microsoft] Copilot' itu membuat frustrasi. Saya bukan ahli di bidang ini … jadi saya mengandalkan AI untuk memberikan jawaban yang akurat, padahal sering kali hasilnya tidak demikian."

"Tingkat kepercayaan saya terhadap AI lebih rendah dibandingkan setahun yang lalu… bukan semata-mata karena teknologinya, melainkan karena kurangnya kepedulian terhadap masyarakat dari pemilik perusahaan AI, serta minimnya regulasi pemerintah untuk melindungi masyarakat."

"Kita perlu melangkah lebih hati-hati… Perkembangan AI bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan. Ini adalah pilihan."

Warga Australia termasuk yang paling kurang menaruh kepercayaan terhadap AI di dunia, berbeda dengan penduduk di negara-negara tetangganya, menurut studi yang dilakukan oleh University of Melbourne dan perusahaan konsultan KPMG.

Tingkat kepercayaan dan penerimaan jauh lebih tinggi di negara berkembang seperti India dan China, di mana AI lebih sering dipandang sebagai jalan menuju kemakmuran, ujar Nicole Gillespie, seorang pakar kepercayaan dalam organisasi sekaligus profesor manajemen di University of Melbourne.

"Di negara-negara berkembang, AI memainkan peran yang lebih kuat dalam mengatasi kesenjangan sumber daya yang nyata. Teknologi ini dapat membantu minimnya keterampilan, informasi, dan jaringan, serta menjembatani hambatan bahasa untuk membuka akses ke pasar global," ungkapnya.

Masyarakat di negara-negara berkembang tetap menyadari risiko AI. Survei tersebut menemukan pengguna AI di India dan China melaporkan pengalaman dampak negatif yang sedikit lebih banyak, sebuah hasil yang mencerminkan tingkat penggunaan teknologi yang lebih tinggi di wilayah tersebut.

Bukannya mengkhawatirkan risiko AI dibandingkan orang lain, warga Australia justru jauh lebih kecil kemungkinannya untuk melihat sisi positif dari AI, kata Profesor Gillespie.

Survei lain menunjukkan masyarakat di kawasan tersebut menggunakan AI meskipun mereka tidak selalu memercayainya.