Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances mencoba menjawab teka-teki tersebut. Para peneliti memanfaatkan data dari dua studi kesehatan raksasa di Amerika Serikat, yakni Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-up Study.

Keduanya memantau pola hidup lebih dari 112.000 partisipan selama puluhan tahun. Dalam pengamatan tersebut, partisipan diminta mengisi kuesioner frekuensi asupan makanan dan minuman setiap empat tahun sekali, serta riwayat kesehatan berkala.

Minuman dibagi menjadi dua kategori utama, yakni minuman dipermanis gula (SSB) dan minuman dengan pemanis buatan atau Artificially Sweetened Beverages (ASB).

Hasilnya, dari pemantauan panjang tersebut, tercatat ada 278 kasus kanker lambung. Mereka yang mengonsumsi minimal satu porsi minuman manis per hari (ukuran sekitar 240 ml) memiliki risiko terkena kanker lambung 2,45 kali lipat lebih tinggi, atau melonjak lebih dari 100 persen dibanding mereka yang jarang meminumnya.

Secara spesifik, peningkatan risiko pada kelompok wanita mencapai hampir tiga kali lipat, sementara pada pria meningkat hampir dua kali lipat.

Menariknya, para peneliti menemukan bahwa lonjakan risiko kanker lambung ini tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya infeksi bakteri H. pylori. Artinya, minuman manis bekerja melalui jalur risiko yang independen.