Di Sumba Timur dikenal dua jenis kain utama, yakni hinggi yang dikenakan laki-laki dan lau yang digunakan perempuan. Melalui kedua kain ini, berbagai simbol budaya diwariskan dari generasi ke generasi.

Penelitian Erwin Ardianto Halim dan rekan-rekannya dari Universitas Kristen Maranatha menunjukkan bahwa susunan ragam hias pada kain hinggi mencerminkan konsep dualisme dan triple pattern. Dua unsur yang berbeda dipertemukan dalam hubungan yang saling melengkapi, sementara unsur ketiga berfungsi sebagai penyeimbang yang menciptakan harmoni.

Kain hinggi juga dapat dibaca sebagai representasi kosmologi masyarakat Sumba. Bidang-bidang pada kain dikaitkan dengan tiga lapisan dunia, yaitu talaba dita (alam atas), la padua (alam tengah), dan talaba wawa (alam bawah). Pembagian ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sumba memandang hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.