NADIKABAR.COM — Camat Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Mustopa menegaskan kejadian viral di Jalan Kramat II, Kelurahan Pondok Pinang, bukan merupakan persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), melainkan berkaitan dengan waktu pelaksanaan kegiatan yang mengganggu warga.

Mustopa mengatakan keluhan warga muncul karena penggunaan petasan atau kembang api dalam kegiatan tersebut berlangsung hingga larut malam.

"Bahwa kegiatan yang sempat viral beberapa hari yang lalu itu tidak ada kaitan sama sekali dengan SARA," kata Mustopa seusai rapat koordinasi keagamaan di Kantor Kelurahan Pondok Pinang, Jakarta,

Selasa.Menurut Mustopa, pertemuan yang melibatkan unsur kecamatan, kelurahan, kepolisian, tokoh masyarakat, RT/RW, LMK, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Selatan digelar untuk menyatukan persepsi sekaligus mengevaluasi kejadian tersebut.

Ia mengatakan panitia kegiatan telah mengakui kesalahan yang ditimbulkan dan meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Sementara itu, Ketua FKUB Kota Jakarta Selatan Djawahir Tantowi menegaskan kejadian tersebut bukan persoalan SARA.

"Kami berharap tetap rukun di Kecamatan Kebayoran Lama ini," kata Djawahir.

Kejadian tersebut berawal dari keluarga yang sedang menggelar pengajian sekaligus haul dari almarhum keluarga mereka, bertepatan dengan pelaksanaan acara Maulid Nabi di kawasan Jalan Keramat 2, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (3/10) malam.

Dalam perayaan Maulid Nabi itu, petasan diketahui dinyalakan berulang kali hingga sekitar pukul 01.00 WIB, sehingga mengganggu waktu istirahat warga sekitar.