Baik keledai maupun kuda, sama-sama hewan sosial. Namun, keledai hidup dalam kelompok kecil dengan ikatan kuat pada pasangannya, sementara kuda hidup dalam kelompok lebih besar dengan komunikasi lebih kompleks. Keledai juga dapat menyembunyikan ekspresi rasa sakit, sedangkan kuda mengekspresikannya secara eksplisit. Perbedaan ini berkaitan dengan adaptasi lingkungan.

"Keledai sangat tahan di wilayah kering seperti gurun dan lingkungan miskin nutrisi, sedangkan kuda hidup di padang rumput yang luas dan hijau. Karena itu, keledai lebih adaptif terhadap lingkungan marginal dan panas," terangnya.

Keledai bukan hewan asli Indonesia, melainkan berasal dari Afrika Utara dan Timur Tengah. Cerita rakyat turun-temurun dari Timur Tengah dan India, yang masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan, ikut membentuk opini tersebut.

"Sebenarnya, ungkapan 'bodoh seperti keledai' yang sering kita dengar, hanya sebuah metafora untuk menggambarkan orang yang tidak mau belajar dari kesalahan. Hal ini tersirat dalam ungkapan aslinya dalam bahasa Arab, 'Al-himaru la yu'allim', yang bermakna bahwa 'keledai tidak bisa diajari'," urai Prof Ronny.

Keledai, lanjutnya, juga dijadikan simbol sosial kelompok masyarakat yang dianggap lebih rendah daripada kuda, hingga akhirnya melekat sebagai memori kolektif. Padahal, dalam berbagai hal, keledai lebih cerdas daripada kuda.