Prof Ronny menjelaskan, dari sisi evolusi, keledai (Equus africanus asinus) dan kuda (Equus ferus caballus) berkerabat karena satu genus 'Equus' yang sekitar 55 juta tahun lalu berevolusi dari nenek moyangnya, Hyracotherium. Keledai didomestikasi di Afrika Timur Laut sekitar 5.000-4.000 SM, sedangkan kuda di wilayah Stepa Pontic-Caspian sekitar 2.200-2.000 SM.
"Dalam perjalanan evolusinya, keledai dan kuda akhirnya memiliki jumlah kromosom berbeda. Keledai memiliki jumlah kromosom 62, sedangkan kuda 64. Perbedaan inilah yang menyebabkan keturunan hasil persilangan menjadi steril karena terdapat kromosom yang tidak memiliki pasangan," paparnya.
Hal paling menarik dari sisi ilmu genetika adalah resiprokal antara keledai dan kuda yang menghasilkan keturunan dengan karakter yang berbeda. Persilangan kuda betina dengan keledai jantan menghasilkan mule, bertubuh mirip kuda dengan telinga lebih panjang serta daya tahan dan kecerdasan lebih baik daripada keledai.
Sebaliknya, kuda jantan dengan keledai betina menghasilkan hinny yang jarang berhasil, bertubuh lebih kecil, lebih tenang, dan tidak sekuat mule. Dengan demikian, ungkapan keledai bodoh dan keras kepala adalah stereotipe dan metafora budaya yang tidak mencerminkan perilaku sebenarnya.
"Keledai lebih berhati-hati dan memiliki daya analisis lebih mendalam, sehingga menjadikan keledai sebagai hewan cerdas dan memiliki strategi bertahan hidup yang sangat baik," tutupnya.