NADIKABAR.COM — Ungkapan 'bodoh seperti keledai' sering kita dengar. Hewan ini memang dicap sebagai hewan bodoh dan keras kepala, dan kerap digunakan untuk menggambarkan perilaku negatif manusia. Benarkah keledai hewan bodoh?

Prof Ronny Rachman Noor, Pakar Genetika Ekologi IPB University, menjelaskan bahwa stigma ini bermula dari kebiasaan keledai berhenti dan tetap tidak mau bergerak saat dalam bahaya, meski disuruh.

Saat menghadapi bahaya, keledai berhenti, mengamati, dan mempelajari keadaan, sementara kuda langsung kabur. Menurut dia, perilaku yang kerap dicap keras kepala ini justru cerminan kecerdasan keledai.

"Hasil penelitian tentang tingkah laku dan genetik menunjukkan keledai dikenal cerdas. Jika keledai berhenti bergerak, itu menandakan keledai sedang mengamati lingkungan untuk menilai apakah aman atau ada bahaya yang mengintai," kata Prof Ronny, seperti dikutip dari situs IPB University.

"Dalam hal menilai keamanan lingkungan, keledai lebih cerdas daripada kuda. Tingkah laku keledai seperti ini mencerminkan kehati-hatian, daya analisis, dan kecerdasan sebagai ekspresi instingnya untuk bertahan hidup," jelasnya.

Perbedaan itu tidak berhenti pada respons terhadap bahaya. Prof Ronny menjelaskan, keledai lebih berhati-hati menganalisis keadaan sebelum memutuskan melawan atau melarikan diri, sedangkan kuda lebih impulsif.

Baik keledai maupun kuda, sama-sama hewan sosial. Namun, keledai hidup dalam kelompok kecil dengan ikatan kuat pada pasangannya, sementara kuda hidup dalam kelompok lebih besar dengan komunikasi lebih kompleks. Keledai juga dapat menyembunyikan ekspresi rasa sakit, sedangkan kuda mengekspresikannya secara eksplisit. Perbedaan ini berkaitan dengan adaptasi lingkungan.

"Keledai sangat tahan di wilayah kering seperti gurun dan lingkungan miskin nutrisi, sedangkan kuda hidup di padang rumput yang luas dan hijau. Karena itu, keledai lebih adaptif terhadap lingkungan marginal dan panas," terangnya.

Keledai bukan hewan asli Indonesia, melainkan berasal dari Afrika Utara dan Timur Tengah. Cerita rakyat turun-temurun dari Timur Tengah dan India, yang masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan, ikut membentuk opini tersebut.

"Sebenarnya, ungkapan 'bodoh seperti keledai' yang sering kita dengar, hanya sebuah metafora untuk menggambarkan orang yang tidak mau belajar dari kesalahan. Hal ini tersirat dalam ungkapan aslinya dalam bahasa Arab, 'Al-himaru la yu'allim', yang bermakna bahwa 'keledai tidak bisa diajari'," urai Prof Ronny.

Keledai, lanjutnya, juga dijadikan simbol sosial kelompok masyarakat yang dianggap lebih rendah daripada kuda, hingga akhirnya melekat sebagai memori kolektif. Padahal, dalam berbagai hal, keledai lebih cerdas daripada kuda.

Prof Ronny menjelaskan, dari sisi evolusi, keledai (Equus africanus asinus) dan kuda (Equus ferus caballus) berkerabat karena satu genus 'Equus' yang sekitar 55 juta tahun lalu berevolusi dari nenek moyangnya, Hyracotherium. Keledai didomestikasi di Afrika Timur Laut sekitar 5.000-4.000 SM, sedangkan kuda di wilayah Stepa Pontic-Caspian sekitar 2.200-2.000 SM.

"Dalam perjalanan evolusinya, keledai dan kuda akhirnya memiliki jumlah kromosom berbeda. Keledai memiliki jumlah kromosom 62, sedangkan kuda 64. Perbedaan inilah yang menyebabkan keturunan hasil persilangan menjadi steril karena terdapat kromosom yang tidak memiliki pasangan," paparnya.

Hal paling menarik dari sisi ilmu genetika adalah resiprokal antara keledai dan kuda yang menghasilkan keturunan dengan karakter yang berbeda. Persilangan kuda betina dengan keledai jantan menghasilkan mule, bertubuh mirip kuda dengan telinga lebih panjang serta daya tahan dan kecerdasan lebih baik daripada keledai.

Sebaliknya, kuda jantan dengan keledai betina menghasilkan hinny yang jarang berhasil, bertubuh lebih kecil, lebih tenang, dan tidak sekuat mule. Dengan demikian, ungkapan keledai bodoh dan keras kepala adalah stereotipe dan metafora budaya yang tidak mencerminkan perilaku sebenarnya.

"Keledai lebih berhati-hati dan memiliki daya analisis lebih mendalam, sehingga menjadikan keledai sebagai hewan cerdas dan memiliki strategi bertahan hidup yang sangat baik," tutupnya.