NADIKABAR.COM — Keluarga Kapten Kapal MT Hanour 25 Ashari Samadikun asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan; menyampaikan rasa syukur korban berhasil diselamatkan bersama rekannya dari perompak Somalia dan berharap segera dipulangkan ke Makassar, Indonesia.

"Harapan terakhir kami supaya, segera anak saya dapat dipulangkan kembali ke Makassar dan bertemu dengan keluarganya, keluarga besar," kata ayah Ashari Samadikun, Syamsuddin Daeng Ngawing, kepada wartawan di rumahnya, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulsel, Senin

Pihak keluarga berharap kepada pemerintah untuk segera mengurus kepulangan anaknya yang kini berada di zona aman, menyusul informasi dari korban posisinya di Bosaso, wilayah pesisir utara negara Somalia.

"Saya berharap kepada pemerintah (dipulangkan segera). Saya mengucapkan kepada pemerintah terima kasih yang sebesar-besarnya, semua pihak yang sudah turun campur di dalam penyelesaian masalah anak saya," tuturnya.

Syamsuddin menuturkan, kabar anaknya dibebaskan bersama beberapa rekannya pada 29 September 2026. Pembebasan tersebut diketahui setelah aparat keamanan bersenjata Puntland-wilayah semi-otonomi di Somalia menyerbu kapal yang dibajak perompak sejak 21 April 2026.

"Anak saya juga tidak tahu bahwa akan terjadi penyerangan, tiba-tiba ada penyerangan seperti itu. Hanya karena anak saya menyampaikan, ketika dia melihat kapal yang mencurigakan.

"Semua awak kapal di atas langsung diikat, ketika dia merasa curiga. Nah, itulah dia tahu anak saya sudah sampaikan bahwa bukan itu (kapal penyergap), karena itu adalah kapal tanker. Ternyata, memang itu yang membebaskannya," tutur Syamsuddin bercerita dari informasi anaknya.

Ashari juga bercerita terjadi baku tembak antara petugas keamanan militer. Sempat rekan-rekannya berpura-pura mati, lalu perompak gelisah siapa yang menjalankan kapal. Ia sempat lari ke depan kapal, namun setir kapal sudah dirusak. Korban pun sempat ditendang perompak.

"Dia bilang kepada perompak, kalau saya mati, siapa lagi mau jalankan ini kapal. Nah, ternyata sudah diserbu naik. Itulah penyelamatan anakku, Allah masih lindungi dia, sehingga tidak sempat (ditembak), alhamdulillah dia selamat," ucap Syamsuddin didampingi istrinya.

Saat penyergapan itu berlangsung, ada 17 awak kapal. Terjadi baku tembak antara perompak dengan tim penyelamat. Namun naas, lima orang awak kapal ditembak perompak dan dinyatakan meninggal dunia.

"Ada 17 orang awak kapal itu, lima orang meninggal. Tiga dari Pakistan, satu dari India, dan satu dari Myanmar. Kalau dari Indonesia empat orang (selamat) tapi, satu cedera kakinya, namanya Fikri dari Bogor. Saya dikabari anak saya itu sudah bebas hari Selasa, minggu lalu," katanya menceritakan

Sejauh ini, anaknya tetap mengabari keluarga meski berada di Bosaso, di bawah pengawasan militer. Hanya saja, waktu-waktu tertentu yang dapat berkomunikasi.

"Kondisinya dalam keadaan sehat, masih dikawal. Tadi malam telpon video, dia sehat-sehat. Rencana mau ke rumah sakit dipertemukan temannya yang cedera tadi, dirawat. Anak saya masih trauma, was-was meski di kawal militer, dia tetap waspada. Kami sampaikan di sini supaya tidak lalai," ucapnya.

Mengenai komunikasi dengan pemerintah untuk tindakan selanjutnya usai dibebaskan, Syamsuddin bilang, sudah dilakukan termasuk dengan anggota DPR RI bagaimana cara supaya anaknya dipulangkan dari Somalia ke Indonesia.

Sebelumnya, kapal itu ditumpangi 17 orang pelaut. Empat di antara WNI masing-masing Ashari Samadikun kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Sulsel. Adi Faizal 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, Jawa Tengah dan Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat.