"Tidak seorang pun memberikan saya sertifikat kematiannya, barang-barang pribadinya, ataupun jenazahnya. Saya hanya bisa menangis dan berduka dalam diam. Apa lagi yang bisa saya lakukan?" katanya.

Meski telah menggelar upacara pemakaman simbolis, keluarga para terpidana yang dieksekusi mengatakan mereka akan terus merasakan kehilangan selama jenazah kerabat mereka tidak dimakamkan menurut tradisi Kristen (BBC)

Pada hari yang sama dan di penjara yang sama, Tsigabu Gebremariam juga dieksekusi setelah divonis bersalah atas kasus yang sama.

Pria berusia 26 tahun itu merupakan anak sulung dari delapan bersaudara yang berasal dari sebuah distrik pedesaan di wilayah Tigray Tengah, Ethiopia.

Menurut ayahnya, Hagos Gebremeskel, Tsigabu meninggalkan kampung halamannya setelah berusia 18 tahun untuk keluar dari kemiskinan dan menghindari perang saudara.

"Tidak banyak lapangan pekerjaan bagi anak muda di daerah kami. Dia pergi ke Arab Saudi untuk membantu saya," kata Hagos.

Tsigabu dinyatakan bersalah dalam kasus penyelundupan narkoba dan menjalani hukuman penjara selama tiga setengah tahun. Ia terakhir berbicara dengan keluarganya pada Februari lalu.

"Dia bilang akan segera pulang dan menikah," ujar Hagos kepada BBC.

Ibunya, Letechristos Gebretsadik, sempat mencari calon istri yang cocok untuk putranya. Namun pada akhirnya, ia justru harus mengurus pemakamannya.

"Semua anak saya perempuan, dia satu-satunya anak laki-laki. Saudari-saudarinya sangat berharap kakaknya segera pulang. Mereka bahkan sudah menyiapkan lagu-lagu untuk pesta pernikahannya. Sekarang, patah hati yang mereka rasakan lebih besar daripada yang saya rasakan," katanya.

Tsigabu Gebremariam menghabiskan tiga setengah tahun di penjara sebelum akhirnya dieksekusi (Family supplied)

Setelah mengetahui kabar eksekusi Tsigabu dari kerabat yang tinggal di Arab Saudi, keluarganya yang beragama Kristen Ortodoks memutuskan menggelar upacara pemakaman simbolis dan kebaktian doa di gereja setempat.

"Saya ingin tahu mengapa jenazahnya belum dipulangkan," kata Letechristos, yang menjalani masa berkabung selama 40 hari sesuai tradisi. "Hal ini membuat duka kami semakin berat dan menghancurkan hati kami."

Orang tua Tsigabu meminta otoritas Arab Saudi menunjukkan bukti atas kejahatan yang dituduhkan kepada putra mereka. Mereka juga mempertanyakan kemungkinan adanya pihak lain yang memanfaatkan Tsigabu.

Laporan Amnesty International yang dirilis tahun lalu menyebutkan 75% orang yang dieksekusi karena kasus terkait narkoba merupakan warga negara asing.

Dhainy mengatakan orang-orang yang berada dalam kondisi rentan kerap menjadi sasaran eksploitasi jaringan kriminal.

"Dalam beberapa kasus yang melibatkan warga Ethiopia, para tahanan mengaku dibujuk untuk membawa barang tertentu sebagai imbalan atas bantuan menyeberangi perbatasan. Sementara dalam kasus-kasus yang melibatkan warga Pakistan, kami mendokumentasikan individu yang dipaksa menelan barang terlarang, terkadang melalui paksaan atau dengan iming-iming pekerjaan," jelas Dhainy.

Hagos Gebremeskel mengatakan ia tidak yakin arwah putranya akan benar-benar tenang jika jenazahnya tidak dipulangkan dan dimakamkan sesuai tradisi (Mebrahtom)

Menurut perkiraan European Saudi Organisation for Human Rights (ESOHR), jumlah eksekusi di Arab Saudi telah melampaui 2.000 kasus sejak Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud naik takhta pada 2015. Sebanyak 42% dari mereka yang dieksekusi adalah warga negara asing.

Organisasi tersebut mencatat Arab Saudi melaksanakan 356 eksekusi sepanjang 2025, angka tahunan tertinggi yang pernah tercatat.