Hukum Arab Saudi sebenarnya memungkinkan jenazah dipulangkan ke negara asal dengan biaya ditanggung kedutaan besar. Namun, menurut Dhainy, hal itu tidak pernah terjadi.
"Kami tidak mengetahui satu pun kasus di mana jenazah warga negara asing yang dieksekusi dipulangkan kepada keluarganya. Hal serupa juga tampaknya berlaku dalam kasus-kasus yang kami dokumentasikan yang melibatkan warga negara Arab Saudi," katanya.
Dhainy menambahkan, pada masa lalu sejumlah keluarga pernah melakukan kampanye untuk menuntut pemulangan jenazah narapidana yang dieksekusi, termasuk warga negara Turki dan Yordania, tetapi tidak membuahkan hasil.
"Sertifikat kematian yang diberikan kepada keluarga korban dari Yordania sangat singkat. Tidak ada informasi mengenai lokasi pemakaman jenazah maupun keadaan yang menyebabkan kematiannya," ujarnya.
Kinfe Aregawi mengatakan ia masih sulit menerima kepergian putranya, meski telah menggelar doa dan upacara pemakaman simbolis (Kinfe Aregawi)
BBC telah meminta tanggapan dari pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, serta Kedutaan Besar Arab Saudi di London. Namun, hingga laporan ini diterbitkan, belum ada respons yang diberikan.
Otoritas Arab Saudi secara konsisten menyampaikan sikap tegas terhadap kejahatan narkoba.
Saat mengumumkan eksekusi seorang warga negara Arab Saudi yang juga divonis dalam kasus terkait ganja pada Juni lalu, Kementerian Dalam Negeri mengutip ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas hukuman berat bagi mereka yang menyebabkan "kerusakan di muka bumi".
Dalam pernyataan tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk "melindungi keamanan warga negara dan penduduk dari bahaya narkoba serta menjatuhkan hukuman paling berat yang diatur dalam hukum terhadap penyelundup dan pengedar narkoba", mengingat dampak yang ditimbulkan berupa hilangnya nyawa orang-orang yang tidak bersalah dan kerusakan serius akibat narkoba.
BBC juga telah meminta tanggapan dari Kedutaan Besar Ethiopia di Arab Saudi.
Seorang narapidana menggambarkan kondisi penjara yang sangat padat, dengan banyak tahanan terpaksa tidur di bawah lembaran plastik (BBC)
Arab Saudi tidak mengungkapkan jumlah narapidana yang saat ini menunggu eksekusi. Namun para aktivis hak asasi manusia memperkirakan jumlahnya bisa mencapai ratusan orang.
"Eksekusi di Arab Saudi yang dilakukan secara tertutup atau tanpa pemberitahuan yang memadai sebelumnya melanggar hak narapidana dan keluarganya untuk memiliki waktu yang cukup dalam mempersiapkan diri menghadapi kematian," kata Joey Shea, peneliti Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara Human Rights Watch (HRW).
Kerahasiaan tersebut juga membuat kehidupan para terpidana mati dipenuhi kecemasan.
Seorang narapidana yang identitas dan lokasi penahanannya tidak dapat diungkap demi alasan keamanan menceritakan kepada BBC tentang kondisi yang dihadapinya di penjara.
Ia ditangkap pada 2023 dan mengakui tuduhan penyelundupan narkoba yang dikenakan kepadanya. Menurut pengakuannya, ia telah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman, namun masih berharap mendapat pengampunan.
Tahun ini, ia menyaksikan 15 sesama narapidana dieksekusi. Kini, ia hidup dalam ketakutan karena sewaktu-waktu bisa mengalami nasib yang sama.
"Setiap kali para penjaga membuka pintu sel, kami bertanya-tanya siapa yang akan mendapat giliran berikutnya."
Ia terus berharap akan terjadi keajaiban, yaitu penangguhan atau pembatalan eksekusinya. Namun jika hal terburuk benar-benar terjadi, ia ingin jenazahnya dipulangkan ke tanah air.
"Saya khawatir orang tua saya bahkan tidak akan bisa melihat jenazah saya."