NADIKABAR.COM — Keluarga almarhum Teguh, warga Desa Sidogembul, Kecamatan Sukodadi mengeluhkan pelayanan Puskesmas Sukodadi yang diduga mempersulit proses penanganan medis saat pasien membutuhkan rujukan.
Keluarga menilai pelayanan yang diterima di Puskesmas Sukodadi diduga kurang baik. Bahkan, salah satu anggota keluarga menyebut sikap petugas saat memberikan penjelasan terkesan keras dan membuat keluarga semakin terpukul.
Ibu mertua almarhum Teguh, Kaswati menceritakan, kondisi Teguh sebelumnya mendadak sakit dan sempat mendapatkan perawatan di Klinik Sartika. Pasien juga telah dipasang infus sebelum kemudian dibawa ke Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (RSI NU) Lamongan.
Namun, keluarga kemudian diminta mengurus surat rujukan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), yakni Puskesmas Sukodadi.
Kaswati mengatakan, keluarga kemudian mendatangi Puskesmas Sukodadi dengan membawa dokumen atau rekapan perawatan dari rumah sakit. Namun, menurutnya, surat rujukan tetap tidak diberikan karena pasien sebelumnya tidak dibawa dan dirawat di Puskesmas tersebut.
"Setelah dari rumah sakit diminta ke Puskesmas untuk minta surat rujukan. Tapi dari Puskesmas tidak bisa memberikan, alasannya pasien belum pernah dirawat di Puskesmas," ujar Kaswati, Selasa (8/9/2026).
Dalam kondisi panik, keluarga kemudian meminta bantuan Kepala Desa Sidogembul. Kepala Desa disebut sempat menghubungi Kepala Puskesmas Sukodadi untuk menjelaskan kondisi pasien. Namun, menurut keluarga, upaya tersebut belum menyelesaikan persoalan. Keluarga kembali mendatangi Puskesmas hingga tiga kali untuk meminta surat rujukan.
Siti Nur Jannah, kakak ipar almarhum Teguh,mengaku kecewa dengan cara penyampaian petugas yang menurutnya terkesan keras. Bagi keluarga, situasi tersebut terasa semakin berat karena mereka sedang berusaha mencari pertolongan untuk pasien yang kondisinya membutuhkan penanganan.
Keluarga mengaku bukan ingin mempermasalahkan prosedur administrasi. Mereka hanya berharap ketika ada anggota keluarga dalam kondisi sakit, pelayanan dapat diberikan dengan komunikasi yang lebih baik dan tidak membuat keluarga merasa dipingpong dari satu tempat ke tempat lain.
"Keinginan kami, pasien jangan dilempar-lempar. Kalau memang ada prosedurnya, kami bisa mengikuti. Tapi tolong dijelaskan dengan baik, jangan sampai keluarga yang sedang panik malah merasa dipersulit," ujar Kaswati.
"Yang terakhir adik saya sendiri yang ngomong. Sudah ditunjukkan rekapan tadi, kemudian ditelepon dokter. Adik saya juga enggak emosi, tetap menjelaskan semuanya, tapi tetap enggak bisa, enggak dikasih," katanya.
Terkait penyebab meninggalnya, keluarga mengaku belum mengetahui secara pasti. Berdasarkan informasi dokter yang diterima keluarga, terdapat kemungkinan kondisi tersebut berkaitan dengan diabetes. Namun, keluarga menyebut pemeriksaan sebelumnya di Klinik Sartika dinyatakan normal.