Untuk berjualan di Pos Trisakti Sadarehe, Mimin harus mengeluarkan biaya transportasi yang tidak sedikit. Ia menyebut ongkos ojek untuk membawa barang dagangan dari rumah sekitar Rp 50 ribu sekali jalan.

"Berat di ongkos kalau ke sini dari rumah. Sekali berangkat kalau sewa ojek Rp 50 ribu karena bawa barang-barang. Kalau bolak-balik Rp 100 ribu," ujarnya.

Di luar berjualan di jalur pendakian, Mimin sehari-hari bekerja sebagai petani sayuran. "Saya petani sayuran juga sehari-harinya," ucapnya.

Meski berharap jalur segera dibuka, Mimin juga mengingatkan para pendaki agar ikut menjaga kawasan Gunung Ciremai. Ia meminta pendaki tidak membuang sampah sembarangan dan berhati-hati dengan puntung rokok.

"Pesannya jangan sampai buang sampah sembarangan, terutama buang rokok. Bekas rokok dijaga, jangan sampai ada bakar-bakaran di atas," pungkasnya.

Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Gunung Ciremai di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Majalengka, Robi Gumilang mengatakan, jumlah pendaki menjelang penutupan sementara masih dalam kondisi relatif normal untuk akhir pekan. Saat ini, jumlah pendaki tercatat sekitar 200 orang.

"Kalau untuk Sabtu-Minggu relatif stabil. Biasanya terkadang hanya puluhan, tetapi untuk saat ini memang ada sekitar 200-an," kata Robi.

Menurutnya, para calon pendaki yang sudah melakukan pemesanan telah diberi informasi mengenai rencana penutupan. Mereka kemudian dapat memilih untuk mengubah jadwal pendakian sebelum 6 September atau menunggu hingga jalur kembali dibuka.