NADIKABAR.COM — Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, membuat inovasi lubang resapan dan pengolahan sampah organik rumah tangga atau teba untuk mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Petamburan Teuku Syauqan mengatakan pembuatan teba itu dilakukan sebagai tindak lanjut Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
"Jadi, nantinya sampah-sampah organik dari setiap blok rusun akan dialihkan ke teba," kata Teuku di Rusun Petamburan, Jakarta, Senin.
Dia menjelaskan teba tersebut memiliki dimensi sebesar 2x7 meter dengan kedalaman 2 meter.
Menurut Teuku, pembuatan teba itu baru dilakukan beberapa pekan lalu melalui musyawarah RW.
Selanjutnya, masing-masing RT/RW diarahkan agar menyediakan dua unit tong komposter berkapasitas 150 liter di setiap RT untuk mendukung pengolahan sampah organik.
Teuku menyebutkan teba merupakan metode pengolahan sisa sampah organik rumah tangga yang dimasukkan secara berkala ke dalam lubang untuk kemudian diurai secara alami oleh mikroorganisme tanah menjadi kompos.
Untuk mengurangi bau selama proses penguraian, sampah di dalam lubang teba dicampur dengan larutan Effective Microorganisms 4 (EM4) dan ditutup dengan menggunakan terpal.
"Sampah kemudian didiamkan selama tiga bulan menjadi kompos, lalu diangkat. Sampah yang sudah menjadi kompos akan dimanfaatkan untuk penghijauan lingkungan Kelurahan Petamburan, selebihnya menjadi nilai bisnis," tutur Teuku.
Selain teba, pihaknya juga mempertimbangkan pengolahan sampah menjadi kompos dengan menggunakan mesin komposter.
Teuku menilai penggunaan mesin komposter nantinya dapat mendukung proses pemilahan dan pengolahan sampah di lingkungan Petamburan.
Sementara itu, Pengurus RT 2 RW 11 Sutarno mengapresiasi pembuatan teba oleh Kelurahan Petamburan dan berharap adanya mesin komposter untuk menunjang pemilahan sampah di wilayahnya.
"Saya atas nama warga berterima kasih kepada Kecamatan Tanah Abang, khususnya Kelurahan Petamburan yang bekerja keras membimbing kami dan berharap dapat memiliki mesin komposter dikarenakan volume sampahnya sangat besar," ungkap Sutarno.