"Memberikan kegiatan seperti festival budaya yang tadi telah kita lakukan adalah salah satu budaya lokal yang ada di Kelurahan Pulau Panggang. Tentunya kegiatan itu untuk menarik wisatawan yang datang ke Kepulauan Seribu. Selain itu, kegiatan ini menyejahterakan masyarakat," kata Muhammad Fakih.
Di Kelurahan Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, pelaksanaan festival mengandalkan gotong royong lintas RT dan RW yang dipersiapkan secara mandiri hingga larut malam.
Lurah Utan Kayu Selatan, Rusdi menyatakan bahwa keberhasilan masuk ke babak final merupakan buah dari kerja keras warga dan elemen kemasyarakatan.
"Idenya ini tidak lepas dari kolaborasi teman-teman di kelurahan, tingkat kota, kecamatan, sampai RT dan RW. Kami bahkan selama seminggu pulang jam 11 malam untuk meramu kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada hari ini. Jadi, ini semua partisipasi dari kita semua warga Utan Kayu Selatan demi kemajuan dan kesuksesan wilayah," tutur Rusdi.
Sementara itu, Kelurahan Malakasari memfokuskan kolaborasi warganya pada pengembangan ekowisata berbasis pengolahan sampah dan urban farming.
Inovasi yang dihadirkan berupa integrasi Bank Sampah RW 02, Program Kampung Iklim (ProKlim) RW 05, hingga pusat pembibitan pertanian perkotaan di Taman Pitaloka.
"Kami punya tujuan dengan adanya ajang ini untuk membuat Malakasari sebagai ekowisata. Jadi bermula dari Bank Sampah di RW 02 yang produk-produknya dimanfaatkan untuk urban farming. Rentetannya dari Bank Sampah RW 02 ke ProKlim RW 05, terus ke Taman Pitaloka di RW 06 yang merupakan lokasi pembibitan urban farming se-Kelurahan Malakasari," ungkap Lurah Malakasari.