NADIKABAR.COM — Kemarau panjang membuat sumber air alami di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) terus menyusut. Sejumlah kubangan yang biasa menjadi tempat minum satwa liar mulai kehilangan debit air, sehingga petugas harus rutin memasok air untuk menjaga kelangsungan hidup satwa.

Kondisi paling parah terpantau di kawasan Semenanjung. Kubangan alami yang selama ini mengandalkan mata air kecil tak lagi mampu menyediakan air dalam jumlah cukup akibat debit yang terus mengecil.

"Memang setiap kemarau di TNBB kekeringan, terutama di wilayah Semenanjung. Intervensi dengan menyediakan air untuk satwa," ungkap Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I Jembrana, Isai Yusidarta, saat dikonfirmasi NadiKabar, Kamis (10/9/2026).

Isai menjelaskan saat ini terdapat sedikitnya tiga lokasi sumber air alami yang masih sering dimanfaatkan satwa. Mengingat debit mata air terus mengecil saat kemarau, kubangan tersebut harus diisi kembali menggunakan suplai air tambahan.

Selain mengandalkan sumber alami, pihak balai juga menyiapkan bak air buatan di berbagai titik strategis. Sejauh ini, terdapat tujuh bak buatan yang dibangun untuk menampung pasokan air, termasuk penyiapan tempat minum di lokasi pelepasliaran burung.

Kemarau panjang tak hanya mengurangi ketersediaan air bagi satwa. Savana dan vegetasi hutan musim di kawasan TNBB juga berubah menjadi kering. Rumput dan semak yang kehilangan kadar air menjadi material yang sangat mudah terbakar jika tersulut api.

Kondisi tersebut membuat TNBB berada dalam status rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Guna mengantisipasi ancaman tersebut, pengamanan di seluruh area TNBB kini diperketat.

Sejumlah hidran telah disiapkan untuk mendukung penanganan darurat, sementara armada pemadam kebakaran beserta personel disiagakan di lokasi.

Patroli pencegahan juga ditingkatkan dengan melibatkan warga sekitar dan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA).

"Petugas siap memadamkan api. Pencegahan bersama warga binaan juga dilakukan. Patroli pencegahan kebakaran hutan bersama masyarakat peduli api juga sering dilakukan," tegas Isai.

Pengelolaan air dan kesiapsiagaan kebakaran kini menjadi fokus utama pengelola kawasan. Sebab, selain memicu ancaman dehidrasi bagi satwa, kekeringan yang melanda TNBB turut meningkatkan risiko munculnya titik api yang dapat menjalar dengan cepat.