Sebagai contoh, penelitian untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian tidak hanya membutuhkan keahlian di bidang pertanian, tetapi juga dapat melibatkan pengembang teknologi pesawat nirawak atau drone serta peneliti yang mengembangkan optimalisasi data berbasis kecerdasan buatan (AI).
"Jadi pertama, kalau riset berbasis masalah, itu artinya diperlukan multidisiplin," ujarnya.
Fauzan menegaskan masalah yang menjadi dasar penelitian tidak semestinya hanya ditentukan oleh perguruan tinggi, tetapi perlu bersumber dari kebutuhan nyata para pemangku kepentingan.
"Masalahnya itu harus datang tidak dari kampus sendiri, tetapi masalahnya datang dari industri, bisa dari pemerintah daerah, bisa juga tentunya dari tantangan-tantangan dari investor," katanya.
Melalui pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ia mengatakan pemerintah juga menyiapkan dua jalur pendanaan riset untuk mendukung transformasi tersebut, yakni program riset prioritas yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta program riset strategis yang didukung pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).